Greenhill Ciwidey – Pengacara sayap kanan Abelardo de la Espriella resmi memimpin Kolombia setelah memenangkan pemilihan presiden 2026.
De la Espriella menggantikan Gustavo Petro yang memimpin Kolombia selama empat tahun terakhir.
Ia mengucapkan sumpah jabatan pada Jumat, 7 Agustus 2026, dalam upacara di Cali.
Pemerintah memilih Cali sebagai lokasi pelantikan karena kota tersebut berada di wilayah konflik.
Kawasan barat daya Kolombia masih menghadapi ancaman kelompok bersenjata dan jaringan perdagangan narkoba.
“Baca Juga: Penembakan Sekolah Thailand Tewaskan Delapan Orang“
De la Espriella Janjikan Kebijakan Lebih Tegas
Selama kampanye, De la Espriella menjanjikan pendekatan lebih keras terhadap kelompok bersenjata.
Ia juga berjanji meningkatkan pemberantasan perdagangan narkoba di berbagai wilayah Kolombia.
Selain itu, De la Espriella berencana memangkas pengeluaran pemerintah hingga 40 persen.
Ia juga ingin menghidupkan kembali industri minyak dan gas sebagai bagian dari agenda ekonominya.
Kebijakan tersebut menandai perubahan arah politik setelah pemerintahan Petro.
Petro sebelumnya membawa agenda politik kiri dan mengambil sejumlah sikap berbeda terhadap kebijakan Amerika Serikat.
Sebaliknya, De la Espriella menunjukkan hubungan yang lebih dekat dengan Presiden AS Donald Trump.
Ia juga mendukung pendekatan militer yang lebih tegas dalam menghadapi perdagangan narkoba.
Keamanan Ketat Mengawal Pelantikan
Pemerintah meningkatkan pengamanan selama rangkaian pelantikan De la Espriella.
Pasukan militer dan kendaraan lapis baja berjaga di sejumlah jalan sekitar lokasi acara.
Selain itu, polisi mendirikan pos pemeriksaan dan memeriksa kendaraan yang melintas.
Pemerintah mengambil langkah tersebut untuk mengantisipasi kemungkinan serangan kelompok bersenjata.
Setelah upacara, De la Espriella mengunjungi sebuah batalion militer di sekitar Cali.
Ia kemudian menyampaikan pidato kepada para prajurit yang bertugas.
Kunjungan tersebut menunjukkan perhatian besar pemerintah baru terhadap sektor keamanan.
De la Espriella juga ingin mengirim pesan tegas kepada kelompok bersenjata di Kolombia.
Kelompok Bersenjata Masih Menjadi Ancaman
Wilayah barat daya Kolombia menghadapi persaingan sejumlah kelompok bersenjata.
Faksi pembangkang FARC masih beroperasi setelah menolak kesepakatan damai dengan pemerintah.
Selain itu, kartel Clan del Golfo juga menjalankan aktivitas perdagangan narkoba.
Kelompok pemberontak ELN turut mempertahankan pengaruhnya di sejumlah wilayah.
Karena itu, agenda keamanan menjadi salah satu tantangan terbesar pemerintahan baru.
De la Espriella Ingin Mempererat Hubungan dengan AS
Dalam kebijakan luar negeri, De la Espriella berencana memperkuat hubungan Kolombia dengan Amerika Serikat.
Ia berjanji bergabung dengan koalisi regional bernama “Perisai Amerika”.
Koalisi tersebut mendapat dukungan pemerintahan Trump untuk melawan perdagangan narkoba.
Selain itu, De la Espriella ingin memulihkan hubungan diplomatik Kolombia dengan Israel.
Sebaliknya, ia berencana memutus hubungan dengan Kuba dan Nikaragua.
De la Espriella menyebut kedua negara tersebut sebagai pemerintahan yang bersifat represif.
Transisi Kekuasaan Sempat Memanas
Peralihan kekuasaan tidak berjalan sepenuhnya mulus setelah pemilihan presiden.
Petro sempat mempertanyakan hasil pemilu dan menuding adanya manipulasi dalam penghitungan suara.
Namun, pengamat internasional dan otoritas pemilu Kolombia menolak tudingan tersebut.
Pada akhirnya, Petro menyatakan akan menghormati hasil pemilihan.
Meski demikian, sejumlah demonstrasi tetap berlangsung pada hari pelantikan.
Aksi tersebut berlangsung di Cali, Bogota, dan Barranquilla.
Di Puerto Resistencia, Cali, sejumlah warga turun ke jalan untuk menyampaikan penolakan.
Trump Dukung Pemerintahan Baru Kolombia
Kemenangan De la Espriella memperkuat tren politik konservatif di sejumlah negara Amerika Latin.
Trump secara terbuka mendukung kampanye De la Espriella selama proses pemilihan.
Selain itu, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan rencana bantuan keamanan senilai US$1 miliar.
Pemerintah AS masih membutuhkan persetujuan Kongres untuk merealisasikan bantuan tersebut.
Washington menyebut bantuan itu bertujuan mendukung agenda keamanan pemerintahan baru Kolombia.
Kerja sama tersebut juga memperlihatkan kedekatan hubungan kedua negara setelah pergantian pemerintahan.
Sejumlah Tokoh Dunia Hadiri Pelantikan
Pelantikan De la Espriella turut menarik perhatian sejumlah tokoh internasional.
Raja Spanyol Felipe VI hadir dalam agenda tersebut.
Pelaksana Tugas Jaksa Agung AS Todd Blanche juga menghadiri acara pelantikan.
Presiden FIFA Gianni Infantino turut datang sebagai salah satu tamu.
Selain itu, Presiden Argentina Javier Milei juga hadir dalam acara tersebut.
Tokoh politik konservatif Chile, Jose Antonio Kast, turut menghadiri rangkaian pelantikan.
Kini, De la Espriella menghadapi tantangan besar untuk menjalankan agenda politiknya.
Keamanan, perdagangan narkoba, ekonomi, dan hubungan luar negeri akan menjadi fokus utama pemerintahannya.
“Baca Juga: Wamenkes: Diabetes dan Hipertensi Sering Tak Bergejala“






