Greenhill Ciwidey – Pelajar Prancis menggelar demonstrasi di berbagai wilayah pada Kamis, 1 Oktober 2026. Mereka memprotes kondisi pendidikan dan fasilitas sekolah.
Para siswa menuntut pemerintah menambah tenaga pengajar dan memperbaiki fasilitas sekolah. Mereka juga menyoroti kelas yang terlalu padat serta guru yang tidak mendapatkan pengganti.
Namun, sejumlah aksi kemudian berubah menjadi kericuhan. Beberapa kelompok melakukan pembakaran dan bentrok dengan petugas keamanan.
“Baca Juga: HUAWEI WATCH GT 7: Fitur Kesehatan dan Baterai 21 Hari“
Aksi di Marseille Memicu Sejumlah Insiden
Di Marseille, demonstrasi memicu beberapa insiden pada sejumlah sekolah. Polisi dan otoritas setempat melaporkan kerusakan serta bentrokan di sekitar sekolah.
Di SMA Victor Hugo, seorang siswa mencoba melempar bensin ke dalam tempat sampah. Percikan bensin kemudian mengenai beberapa guru secara tidak sengaja, menurut otoritas setempat.
Sementara itu, situasi di SMA Saint-Exupery berkembang lebih serius. Massa mengepung petugas pemadam kebakaran yang sedang menangani kebakaran.
Menurut laporan otoritas, kelompok tersebut memaksa petugas keluar dari kendaraan. Setelah itu, massa membakar kendaraan pemadam kebakaran tersebut.
Insiden lain juga melukai sejumlah petugas dan kepala sekolah di berbagai wilayah Prancis. Polisi menangkap puluhan orang dalam rangkaian kericuhan pada Kamis.
Kebakaran Melanda Sekolah di Nantes
Kebakaran juga melanda SMA Nelson Mandela di Nantes. Api merusak bagian dalam sekolah dan kemudian menjalar ke bagian depan gedung.
Pihak sekolah mengevakuasi siswa untuk menjaga keselamatan mereka. Petugas kemudian menangani kebakaran tersebut hingga situasi kembali terkendali.
Selain Nantes dan Marseille, sejumlah kota lain juga menghadapi aksi pemblokiran sekolah. Data pemerintah menunjukkan ratusan sekolah mengalami gangguan aktivitas.
Pemerintah Prancis Gelar Pertemuan Darurat
Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu menggelar pertemuan darurat untuk membahas perkembangan demonstrasi. Pemerintah menghadapi tekanan setelah aksi menyebar ke berbagai wilayah.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez menyampaikan kekhawatiran mengenai peningkatan kekerasan. Pemerintah juga menyoroti keterlibatan kelompok yang melakukan tindakan di luar aksi protes.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Edouard Geffray menyiapkan pertemuan dengan perwakilan siswa, orang tua, dan serikat pekerja. Pertemuan tersebut akan membahas tuntutan terkait kondisi pendidikan.
Geffray juga meminta sekolah mempertimbangkan pembelajaran jarak jauh ketika demonstrasi menghalangi akses sekolah. Pemerintah mengambil langkah tersebut untuk menjaga keselamatan siswa dan tenaga pendidikan.
Pelajar Soroti Kondisi Pendidikan
Aksi tersebut muncul karena siswa menilai sistem pendidikan menghadapi berbagai persoalan. Mereka menyoroti kekurangan guru, fasilitas yang memburuk, dan kelas yang terlalu padat.
Selain itu, sebagian siswa mengkritik tekanan akademik serta sistem penerimaan perguruan tinggi. Mereka meminta pemerintah meningkatkan dukungan terhadap sekolah dan memperbaiki kondisi belajar.
Namun, pemerintah membedakan aksi demonstrasi damai dengan tindakan kekerasan. Pemerintah menyatakan bahwa siswa tetap memiliki hak untuk menyampaikan tuntutan.
Di sisi lain, aparat terus menangani kericuhan yang mengancam keselamatan masyarakat. Pemerintah kini menghadapi tantangan untuk menjaga ketertiban sekaligus merespons tuntutan siswa.
“Baca Juga: Pesawat Flydubai Darurat Usai Insiden di Kokpit“





