Greenhill Ciwidey – Presiden Bangladesh Mohammed Shahabuddin mengundurkan diri dua tahun sebelum masa jabatannya berakhir. Ia mengambil keputusan tersebut karena kondisi kesehatannya terus menurun.
Ketua Parlemen Nasional, Hafiz Uddin Ahmad, mengumumkan pengunduran diri itu dalam konferensi pers pada Jumat malam. Ia juga menerima surat pengunduran diri langsung dari Shahabuddin.
Dalam surat tersebut, Shahabuddin menjelaskan bahwa dirinya mengalami beberapa gangguan kesehatan. Ia menyebut neuropati otonom sebagai salah satu penyakit yang dideritanya.
Penyakit tersebut membuat Shahabuddin beberapa kali kehilangan kesadaran dalam waktu singkat. Selain itu, laporan media menyebut ia menjalani perawatan selama dua hari di Rumah Sakit Militer Gabungan.
Sesuai aturan yang berlaku, Ketua Parlemen akan menjalankan tugas sebagai presiden sementara hingga Bangladesh memilih presiden baru.
“Baca Juga: Sugiono Tegaskan Dukungan Indonesia untuk Palestina dan Gaza“
Pengunduran Diri Terjadi Sebelum Masa Jabatan Berakhir
Shahabuddin sebenarnya masih memiliki sisa masa jabatan hingga April 2028. Namun, kondisi kesehatannya membuat ia memilih mengakhiri masa tugas lebih awal.
Bangladesh memilih Shahabuddin sebagai presiden pada 2023. Saat itu, ia memenangkan pemilihan tanpa lawan sebagai calon dari Partai Awami League yang dipimpin Sheikh Hasina.
Meski demikian, jabatan presiden di Bangladesh lebih banyak menjalankan fungsi seremonial. Pemerintah dan perdana menteri tetap memegang peran utama dalam menjalankan pemerintahan.
Kepulangan Sheikh Hasina Jadi Sorotan Politik
Pengunduran diri Shahabuddin menarik perhatian publik karena muncul menjelang rencana kepulangan Sheikh Hasina. Mantan perdana menteri itu menyatakan akan kembali ke Bangladesh pada Desember mendatang.
Situasi tersebut memunculkan berbagai spekulasi politik. Apalagi, Shahabuddin memiliki hubungan panjang dengan Hasina sejak keduanya berada di Partai Awami League.
Pada November 2025, pengadilan Bangladesh menjatuhkan hukuman mati secara in absentia kepada Hasina. Putusan itu berkaitan dengan penindakan terhadap demonstran yang berujung pada penggulingannya dari kekuasaan.
Shahabuddin Pimpin Masa Transisi Setelah Hasina Lengser
Shahabuddin tetap menjalankan tugas sebagai presiden setelah Hasina meninggalkan Bangladesh menuju India pada Agustus 2024.
Selama masa tersebut, ia mengawasi proses transisi pemerintahan. Pemerintahan sementara di bawah peraih Nobel Perdamaian Mohammad Yunus memimpin negara hingga pemilu berlangsung.
Selanjutnya, Bangladesh menggelar pemilihan umum pada Februari lalu. Hasil pemilu mengantarkan Tarique Rahman dari Partai Nasional Bangladesh menjadi pemimpin baru.
Sementara itu, pemerintah melarang Partai Awami League mengikuti pemilu. Larangan tersebut membuat partai Hasina tidak dapat mengajukan kandidat.
Laporan Sebut Pemerintah Mendorong Shahabuddin Mundur
Reuters mengutip tiga sumber yang menyebut pemerintah Tarique Rahman mendorong Shahabuddin untuk mengundurkan diri. Menurut laporan itu, pemerintah menilai hubungan lama Shahabuddin dengan Sheikh Hasina menjadi pertimbangan utama.
Meski demikian, Shahabuddin dalam surat resminya hanya menyampaikan alasan kesehatan sebagai dasar pengunduran dirinya. Hingga kini, pemerintah Bangladesh belum memberikan keterangan tambahan mengenai laporan tersebut.
“Baca Juga: Studi UGM: Beban Ekonomi DBD di Indonesia Tembus Rp9 Triliun“






