Greenhill Ciwidey – Uni Eropa dan India sepakat memperluas kemitraan strategis di bidang perdagangan dan teknologi. Kesepakatan tersebut memperkuat posisi India sebagai salah satu mitra terpenting Uni Eropa di luar Amerika Serikat.
Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi Brussel untuk memperluas rantai pasokan global sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap China.
“Baca Juga: Presiden Bangladesh Mohammed Shahabuddin Resmi Mundur“
India Jadi Mitra Strategis Kedua Uni Eropa
Pertemuan ketiga Dewan Perdagangan dan Teknologi Uni Eropa-India berlangsung di Brussel pada 22 Juli 2026.
Pertemuan itu menghadirkan pejabat tinggi dari kedua belah pihak.
India mengirim Menteri Luar Negeri Subrahmanyam Jaishankar, Menteri Perdagangan dan Industri Piyush Goyal, serta Menteri Negara untuk Elektronik dan Teknologi Informasi Jitin Prasada.
Sementara itu, Komisi Eropa diwakili oleh Henna Virkkunen, Maroš Šefčovič, dan Ekaterina Zaharieva.
Forum tersebut mempertegas komitmen kedua pihak untuk memperluas kerja sama sebelum akhir 2026.
Bagi India, dewan ini menjadi satu-satunya forum perdagangan dan teknologi dengan blok ekonomi besar.
Sementara itu, Uni Eropa hanya memiliki forum serupa dengan Amerika Serikat dan India.
Fokus pada Teknologi Masa Depan
Uni Eropa dan India menyepakati sejumlah program baru.
Kedua pihak akan membahas keterlibatan India dalam program riset Horizon Europe.
Selain itu, mereka akan membangun pusat bersama untuk teknologi pengisian daya kendaraan listrik.
Kerja sama juga mencakup pengembangan perusahaan rintisan teknologi tinggi.
Selanjutnya, kedua pihak akan memperkuat kolaborasi pada industri semikonduktor, kecerdasan buatan, superkomputer, teknologi kuantum, dan jaringan 6G.
Selain teknologi, Uni Eropa dan India juga akan meningkatkan koordinasi pada sektor farmasi, pangan, dan energi.
Uni Eropa Ingin Kurangi Ketergantungan pada China
Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar, menegaskan bahwa kemitraan tersebut bertujuan memperkuat keamanan ekonomi.
Menurutnya, rantai pasokan yang beragam akan menciptakan pasar yang lebih stabil.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengurangi ketergantungan pada sedikit pusat manufaktur dunia.
Pernyataan tersebut menunjukkan kekhawatiran terhadap dominasi produksi yang selama ini berpusat di China.
Di sisi lain, Henna Virkkunen menekankan pentingnya mengembangkan teknologi yang aman dan dapat dipercaya.
Sementara itu, Maroš Šefčovič menilai perjanjian perdagangan bebas antara Uni Eropa dan India berpotensi menjadi perubahan besar.
Kedua pihak menargetkan penyelesaian perjanjian tersebut pada 2027.
Perdagangan Terus Tumbuh
Saat ini, India menyumbang sekitar 2,3 persen dari total perdagangan barang Uni Eropa.
Meski begitu, nilai perdagangan kedua pihak meningkat hampir 84 persen dalam satu dekade terakhir.
Brussel melihat peluang besar dari pertumbuhan industri India.
Selain itu, Uni Eropa juga menilai pasar India memiliki potensi tinggi karena didukung jumlah penduduk yang sangat besar.
Faktor lain yang menarik perhatian ialah kebijakan luar negeri India yang cenderung independen.
India menjaga hubungan dengan Amerika Serikat, China, dan Rusia tanpa bergantung sepenuhnya kepada salah satu pihak.
Kemitraan Strategis Terus Berkembang
Kerja sama ini menunjukkan perubahan arah strategi ekonomi Uni Eropa.
Brussel kini berupaya memperluas kemitraan dengan negara-negara yang memiliki peran penting dalam ekonomi global.
India hadir sebagai mitra strategis dengan kepentingan dan prioritasnya sendiri.
Ke depan, keberhasilan kerja sama tersebut akan bergantung pada kemampuan kedua pihak menyelaraskan kepentingan ekonomi, perdagangan, dan teknologi secara berkelanjutan
“Baca Juga: Studi UGM: Beban Ekonomi DBD di Indonesia Tembus Rp9 Triliun“






