Greenhill Ciwidey – Arab Saudi dikabarkan mulai mendorong gagasan pakta non-agresi baru di kawasan Teluk. Langkah tersebut muncul setelah perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berakhir di Teheran.
Laporan Financial Times menyebut Riyadh sedang mempelajari model kerja sama keamanan ala Proses Helsinki.
“Baca Juga: Agus Widjajanto Soroti Tanggung Jawab dalam Berkarya“
Arab Saudi Ingin Redakan Ketegangan Kawasan
Proses Helsinki pada era Perang Dingin membantu mengurangi ketegangan antara Uni Soviet dan negara Barat.
Kini, Arab Saudi ingin menggunakan pendekatan serupa untuk menjaga stabilitas kawasan Teluk.
Beberapa diplomat Barat menyebut negara-negara Teluk khawatir terhadap kondisi Iran pascaperang.
Meski mengalami serangan besar, Iran masih memiliki kekuatan militer yang kuat.
Selain itu, negara Teluk juga khawatir jika AS mulai mengurangi kehadiran militernya di kawasan.
Karena itu, Arab Saudi mulai mencari pendekatan baru demi menjaga keamanan regional.
Israel Jadi Hambatan Besar dalam Pembahasan
Seorang diplomat Arab mengatakan banyak negara Muslim kemungkinan mendukung gagasan tersebut.
Namun, Israel disebut menjadi hambatan terbesar dalam pembentukan pakta non-agresi.
Diplomat tersebut menjelaskan Iran dan Israel sulit duduk bersama dalam kondisi politik saat ini.
Selain itu, sebagian negara kawasan masih menganggap Israel sebagai sumber ketegangan baru di Timur Tengah.
Karena itu, pembentukan kesepakatan regional diperkirakan tidak akan berjalan mudah.
Negara Eropa Mulai Mendukung Usulan Saudi
Beberapa negara Eropa dilaporkan mulai mendukung gagasan Arab Saudi tersebut.
Mereka berharap kesepakatan itu bisa mengurangi risiko perang baru di kawasan Teluk.
Selain itu, negara Eropa juga ingin menjaga stabilitas jalur energi di Selat Hormuz.
Mereka menilai pakta non-agresi dapat memberi rasa aman bagi Iran dan negara Teluk lainnya.
Karena itu, sejumlah pemerintah Eropa mulai mendorong negara Teluk lain ikut mendukung rencana tersebut.
Negara Teluk Ternyata Tidak Sepenuhnya Kompak
Meski banyak negara Arab mendukung stabilitas kawasan, hubungan antarnegara Teluk masih rumit.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab masih bersaing memperebutkan pengaruh regional.
Selain itu, UEA disebut menjadi salah satu negara Teluk paling keras terhadap Iran selama perang berlangsung.
Laporan juga menyebut UEA mulai menunjukkan kedekatan dengan Israel.
Karena itu, beberapa sumber meragukan UEA akan bergabung dalam pakta non-agresi tersebut.
Hubungan Iran dengan Negara Teluk Berbeda-beda
Iran memiliki hubungan cukup baik dengan Oman. Negara tersebut bahkan sering menjadi mediator pembicaraan internasional.
Selain itu, Iran juga menjaga hubungan ekonomi dengan Qatar karena kedua negara berbagi cadangan gas besar.
Sementara itu, hubungan Iran dengan Kuwait berjalan hati-hati.
Hubungan Iran dengan Arab Saudi memang membaik sejak 2023. Namun, persaingan pengaruh masih terus berlangsung.
Di sisi lain, hubungan Iran dan Bahrain tetap penuh ketegangan akibat masalah politik dan keamanan kawasan.
Kawasan Teluk Masih Hadapi Tantangan Besar
Banyak negara kini berharap stabilitas kawasan bisa segera tercapai setelah perang besar tersebut.
Namun, perbedaan kepentingan antarnegara membuat proses diplomasi tetap berjalan sulit.
Karena itu, gagasan pakta non-agresi ala Helsinki masih membutuhkan dukungan politik yang kuat dari banyak pihak.






