Greenhill Ciwidey – Bencana banjir melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir Desember 2025.
Intensitas hujan yang sangat tinggi menjadi penyebab utama kejadian ini.
Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan kondisi tersebut secara rinci.
Ia menyebut hujan deras turun sesaat sebelum banjir terjadi.
“Baca Juga: Kereta Ekspres India Tewaskan 7 Gajah di Assam“
Curah Hujan di Bireuen Setara Empat Bulan
Abdul menyampaikan bahwa hujan ekstrem terjadi di Kabupaten Bireuen, Aceh.
Dalam 24 jam, curah hujan di wilayah ini mencapai 418 milimeter.
Angka tersebut sangat tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata nasional.
Rata-rata curah hujan tahunan Indonesia berkisar antara 1.500 hingga 4.000 milimeter.
Abdul menegaskan hujan satu malam itu setara akumulasi empat hingga lima bulan.
Kondisi ini langsung memicu banjir di berbagai titik.
Pesisir Timur Aceh Alami Dampak Terparah
Banjir terjadi pada 25 dan 26 Desember 2025 di pesisir timur Provinsi Aceh.
Wilayah ini menerima hujan ekstrem secara merata dalam waktu singkat.
Abdul menunjukkan peta wilayah terdampak saat konferensi pers virtual.
Warna merah muda pada peta menandakan kategori hujan sangat ekstrem.
Karena itu, daerah pesisir timur Aceh mengalami dampak paling parah.
Siklon Senyar Perparah Intensitas Hujan
Selain faktor hujan lokal, Abdul menyebut pengaruh Siklon Senyar.
Siklon ini memperkuat suplai hujan di wilayah Aceh dan sekitarnya.
Akibatnya, curah hujan meningkat drastis dalam waktu singkat.
Kondisi ini memperbesar potensi banjir dan genangan luas.
Sumatra Utara dan Sumatra Barat Juga Terdampak
Hujan intensitas tinggi tidak hanya terjadi di Aceh.
Wilayah pesisir barat Sumatra Utara juga mengalami kondisi serupa.
Selain itu, beberapa daerah di Sumatra Barat mencatat hujan ekstrem berulang.
Wilayah pesisir barat menjadi area yang paling sering terdampak.
Abdul menegaskan hujan ekstrem menyebar di banyak wilayah Sumatera.
BMKG Catat Hujan Ekstrem di Atas Ambang Normal
Abdul mengacu pada data BMKG terkait klasifikasi hujan.
BMKG mengategorikan hujan di atas 150 milimeter per 24 jam sebagai ekstrem.
Dengan angka 418 milimeter, hujan di Bireuen jauh melampaui ambang tersebut.
Kondisi ini memperbesar risiko bencana hidrometeorologi.
Puluhan Daerah Masuk Zona Terdampak
Cuaca ekstrem ini berdampak pada hampir 52 kabupaten dan kota.
Wilayah terdampak tersebar di tiga provinsi berbeda.
Abdul menyebut peristiwa ini sebagai rekor tertinggi dalam enam tahun terakhir.
BMKG mencatat intensitas hujan siklon Senyar sebagai yang paling ekstrem.
Faktor inilah yang memicu dampak bencana cukup signifikan.
Kesimpulan: Waspada Cuaca Ekstrem Berkelanjutan
BNPB mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap cuaca ekstrem.
Hujan intensitas tinggi berpotensi kembali terjadi di beberapa wilayah.
Pemerintah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana.
Langkah cepat sangat penting untuk mengurangi risiko korban dan kerugian.






