Greenhill Ciwidey – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang Kolombia pada Senin, 10 Agustus 2026. Gempa tersebut terjadi pada pukul 07.34 waktu setempat.
Guncangan berpusat di Departemen Choco, sekitar 280 kilometer dari Bogota. Getaran juga terasa di sejumlah kota besar Kolombia.
Wilayah tersebut mencakup Bogota, Cali, Medellin, Pereira, Manizales, dan Ibague. Pemerintah Kolombia kemudian mengaktifkan mekanisme tanggap darurat nasional.
“Baca Juga: Jenderal AS Dorong Trump Cari Jalan Damai dengan Iran“
Korban Gempa Kolombia Capai 111 Orang
Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella melaporkan 111 orang meninggal akibat gempa tersebut. Selain itu, 87 orang mengalami luka-luka.
Gempa juga merusak lebih dari 1.000 bangunan di sejumlah wilayah. Tim penyelamat kini terus melakukan penanganan dan pendataan dampak gempa.
Pemerintah Kolombia juga membentuk Pos Komando Terpadu. Pos tersebut bertugas mengoordinasikan penanganan serta menilai kebutuhan masyarakat terdampak.
Tim terkait juga terus memantau kondisi wilayah yang mengalami kerusakan. Selain itu, pemerintah mengantisipasi kemungkinan terjadinya gempa susulan.
Kemlu Pastikan WNI di Kolombia Aman
Kementerian Luar Negeri RI melalui KBRI Bogota terus memantau kondisi WNI setelah gempa. KBRI juga menghubungi WNI di sejumlah wilayah terdampak.
Direktur Perlindungan WNI Kemlu Heni Hamidah menyampaikan perkembangan tersebut pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Menurut Heni, seluruh WNI di Kolombia berada dalam kondisi aman. KBRI Bogota juga terus menjaga komunikasi dengan para WNI.
Langkah tersebut membantu KBRI memperoleh informasi terbaru mengenai kondisi WNI. Selain itu, komunikasi tersebut dapat mempercepat respons jika keadaan berubah.
KBRI Bogota Antisipasi Gempa Susulan
KBRI Bogota tidak menghentikan pemantauan meski kondisi WNI saat ini aman. Perwakilan Indonesia terus mengikuti perkembangan situasi di wilayah terdampak.
KBRI juga berkoordinasi dengan WNI untuk mengantisipasi kondisi darurat. Salah satu perhatian utama KBRI adalah kemungkinan gempa susulan.
Karena itu, KBRI mengimbau WNI tetap waspada selama situasi belum sepenuhnya stabil. WNI juga perlu mengikuti arahan dari otoritas Kolombia.
Selain itu, KBRI meminta WNI memantau informasi melalui sumber resmi. WNI juga perlu menjaga komunikasi dengan KBRI Bogota.
Pemerintah Kolombia Perkuat Penanganan Darurat
Pemerintah Kolombia telah mengaktifkan mekanisme tanggap darurat nasional. Langkah tersebut memungkinkan pemerintah mengoordinasikan penanganan secara lebih terarah.
Pos Komando Terpadu juga membantu pemerintah mengumpulkan informasi dari berbagai wilayah terdampak. Data tersebut penting untuk menentukan kebutuhan masyarakat.
Pemerintah juga perlu memastikan layanan darurat berjalan dengan baik. Tim penyelamat harus memprioritaskan pencarian korban dan bantuan bagi warga terdampak.
Selain itu, pemerintah perlu memeriksa kondisi bangunan yang mengalami kerusakan. Pemeriksaan tersebut dapat membantu mencegah risiko tambahan bagi masyarakat.
WNI Diminta Tetap Mengikuti Arahan Otoritas
KBRI Bogota meminta WNI tidak mengabaikan arahan keselamatan dari otoritas setempat. WNI juga perlu menghindari bangunan yang mengalami kerusakan.
Selain itu, masyarakat Indonesia di Kolombia perlu segera menghubungi KBRI jika menghadapi keadaan darurat. Komunikasi tersebut dapat membantu pemerintah memberikan bantuan.
Kemlu RI akan terus memantau perkembangan gempa melalui KBRI Bogota. Pemerintah juga akan memperbarui informasi mengenai kondisi WNI jika terdapat perkembangan baru.
Untuk saat ini, KBRI menyatakan seluruh WNI di Kolombia dalam kondisi aman. Namun, WNI tetap perlu meningkatkan kewaspadaan menghadapi kemungkinan gempa susulan.






