Greenhill Ciwidey – Trump Beri Izin Sementara: Hamas kembali menurunkan pasukannya ke jalan-jalan Gaza sejak gencatan senjata dimulai pada Jumat lalu.
Mereka bertindak hati-hati karena situasi bisa berubah kapan saja jika perjanjian damai gagal.
Pada Senin, pasukan Brigade Qassam membebaskan sandera terakhir yang masih hidup dari Israel.
Rekaman memperlihatkan puluhan pejuang Hamas berbaris di sebuah rumah sakit di Gaza selatan.
Salah satu dari mereka mengenakan tanda “Unit Bayangan,” kelompok elit yang bertugas menjaga para sandera.
“Baca Juga: 58 Tentara Pakistan Tewas di Perbatasan, Klaim dari Taliban“
Kekacauan di Gaza Usai Video Kekerasan Beredar
Pada hari yang sama, beredar video di media sosial yang menunjukkan beberapa pria bersenjata bertopeng.
Beberapa dari mereka mengenakan ikat kepala hijau khas Hamas dan menembaki tujuh orang di jalan.
Warga yang menonton video itu bersorak dan menyebut korban sebagai kolaborator.
Banyak unggahan menyebut video tersebut diambil di Gaza pada hari Senin.
Namun, Reuters belum bisa memastikan lokasi dan waktu kejadian tersebut.
Hamas pun belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden tersebut.
Bulan lalu, otoritas Hamas mengumumkan eksekusi terhadap tiga pria yang dituduh bekerja sama dengan Israel.
Video eksekusi tersebut juga sempat tersebar luas di media sosial.
Trump Beri Izin Sementara untuk Hamas Awasi Gaza
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengonfirmasi bahwa Hamas mendapat izin sementara untuk menjaga keamanan Gaza.
Dalam pernyataannya saat menuju Timur Tengah, Trump mengatakan bahwa keputusan ini bersifat sementara.
Ia menyebut Hamas telah menunjukkan niat menghentikan kekacauan dan siap menjaga stabilitas wilayah.
Trump menjelaskan bahwa setelah proses demiliterisasi, Hamas akan melepaskan kekuasaannya atas Gaza.
Komite Palestina bersama pengawas internasional akan mengelola wilayah tersebut.
Rencana tersebut juga mencakup pembentukan misi stabilisasi untuk melatih kepolisian Palestina.
Kepala Kantor Media Pemerintah Hamas, Ismail Al-Thawabta, menegaskan bahwa mereka tidak ingin menciptakan kekosongan keamanan.
Ia mengatakan Hamas akan menjaga ketertiban dan melindungi properti publik di Gaza.
Ia juga menambahkan bahwa Hamas siap menyerahkan senjata jika negara Palestina berdiri di masa depan.
Hamas Hadapi Perlawanan dari Klan Lokal di Gaza
Meskipun gencatan senjata berlaku, konflik internal di Gaza masih terus berlangsung.
Beberapa kelompok lokal yang berafiliasi dengan klan menentang kendali Hamas atas wilayah tersebut.
Menurut warga Gaza, bentrokan terbesar terjadi antara Hamas dan klan Doghmosh di Kota Gaza.
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengaku telah mempersenjatai beberapa klan anti-Hamas.
Namun, ia tidak menjelaskan kelompok mana yang ia maksud.
Pemimpin klan terbesar yang menentang Hamas adalah Yasser Abu Shabab, yang berbasis di Rafah.
Kelompoknya menawarkan gaji tinggi untuk merekrut ratusan pejuang baru.
Hamas menuduhnya bekerja sama dengan Israel, tetapi Abu Shabab membantah tuduhan itu.
Pejabat keamanan Gaza mengatakan bahwa pasukan Hamas telah menewaskan tangan kanan Abu Shabab.
Mereka juga berupaya memburu Abu Shabab yang masih buron hingga kini.
Reuters belum bisa memverifikasi klaim tersebut secara independen.
Tokoh anti-Hamas lainnya, Hussam al-Astal dari Khan Younis, juga mengejek Hamas dalam video pada Minggu.
Ia mengatakan kekuasaan Hamas di Gaza akan segera berakhir setelah menyerahkan para sandera.
Analisis: Hamas Ingin Tunjukkan Peran Keamanan di Gaza
Analis Palestina, Reham Owda, menilai tindakan Hamas bertujuan menghalangi kelompok yang bersekutu dengan Israel.
Ia juga menyebut Hamas ingin menunjukkan bahwa pasukan keamanannya layak menjadi bagian pemerintahan baru Gaza.
Namun, Israel kemungkinan besar akan menolak kehadiran mereka di struktur pemerintahan tersebut.
“Baca Juga: Ribuan Warga Sydney Demo Dukung Palestina Meski Gencatan“






