Greenhill Ciwidey – Indonesia disebut akan menjadi negara pertama yang berkontribusi pada Pasukan Stabilisasi Internasional.
Laporan tersebut datang dari stasiun penyiaran Israel, KAN, pada Senin, 9 Februari 2026.
Pasukan Indonesia disebut akan bertugas di wilayah Gaza.
Selain itu, pasukan tersebut akan berperan selama Fase II gencatan senjata pemerintahan Amerika Serikat.
Misi ini akan berjalan di bawah kerangka Pasukan Stabilisasi Internasional atau International Stabilization Force.
“Baca Juga: Hakim MK Desak Bukti Tersangka dari Roy Suryo Cs“
Sejumlah Negara Pernah Menyatakan Minat Bergabung
Dalam beberapa bulan terakhir, banyak negara menyatakan minat bergabung dengan ISF.
Negara-negara tersebut antara lain Uni Emirat Arab, Mesir, Italia, dan Pakistan.
Selain itu, Azerbaijan, Qatar, Turki, dan beberapa negara lain juga muncul dalam pembahasan.
Namun hingga kini, belum ada negara yang menyiapkan pengiriman pasukan secara konkret.
Indonesia disebut menjadi pihak pertama yang melangkah lebih jauh dari sekadar wacana.
Penempatan Pasukan Dikaitkan dengan Kunjungan Prabowo
Menurut laporan tersebut, pasukan Indonesia bisa tiba di Gaza dalam beberapa minggu.
Waktu tersebut berdekatan dengan kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Washington.
Prabowo dijadwalkan menghadiri KTT Perdamaian untuk Kemakmuran.
KTT tersebut diinisiasi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 19 Februari.
Kunjungan ini memperkuat spekulasi soal keterlibatan aktif Indonesia.
ISF Tidak Dirancang untuk Konfrontasi dengan Hamas
Media Israel, Jerusalem Post, turut mengulas peran ISF.
Laporan tersebut menyebut ISF tidak bertujuan menghadapi Hamas secara langsung.
Sebaliknya, ISF akan mengawasi garis gencatan senjata yang berlaku.
Pasukan juga dapat menangani isu keamanan perbatasan tertentu.
Pendekatan ini bertujuan menjaga stabilitas, bukan memicu eskalasi.
Area Penugasan Berfokus di Gaza Selatan
Militer Indonesia diperkirakan bertugas di wilayah selatan Gaza.
Beberapa lokasi utama mencakup Khan Yunis dan Rafah.
Pasukan akan mengawasi sejumlah garis pertahanan di kawasan tersebut.
Penempatan ini dianggap strategis karena wilayah tersebut rawan konflik.
Namun, misi ini tetap bergantung pada kesepakatan politik yang berjalan.
Aturan Keterlibatan dan Jumlah Pasukan Masih Dibahas
Dalam beberapa minggu ke depan, berbagai isu teknis masih perlu diselesaikan.
Salah satunya menyangkut aturan keterlibatan jika Hamas melakukan kontak langsung.
ISF perlu memiliki pedoman jelas untuk menghadapi situasi tersebut.
Selain itu, jumlah pasukan Indonesia juga belum dipastikan.
Sejumlah perkiraan menyebut keterlibatan setidaknya ribuan personel.
Keputusan akhir akan sangat memengaruhi efektivitas misi stabilisasi.
Masa Depan ISF Bergantung pada Situasi Politik
Jika Hamas belum memulai perlucutan senjata serius hingga awal Mei, situasi bisa berubah.
Periode tersebut bertepatan dengan batas 100 hari pemerintahan Trump.
Dalam skenario terburuk, Israel bisa mempertimbangkan operasi darat kembali.
Karena itu, keberlanjutan ISF masih bergantung pada perkembangan di lapangan.
Indonesia kini berada di posisi penting dalam dinamika tersebut.
“Baca Juga: AS Imbau Kapal Berbendera Amerika Jauhi Perairan Iran“






