Greenhill Ciwidey – Ekonom sekaligus politikus senior, Fuad Bawazier, menduga pihak tertentu sengaja membakar hutan dan lahan di Kalimantan. Ia menilai aksi tersebut mungkin bertujuan menjatuhkan pemerintahan.
Fuad menyampaikan dugaan itu dalam program Rakyat Bersuara di iNews TV, Selasa (20/10/2026). Program tersebut mengangkat tema “730 Hari Pemerintahan, Suara dan Harapan”.
Dalam kesempatan itu, Fuad mengaitkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan aktivitas perkebunan kelapa sawit. Namun, pernyataan tersebut merupakan dugaan Fuad dan belum membuktikan adanya upaya terorganisasi untuk menjatuhkan pemerintah.
“Baca Juga: Kerusuhan Albania, Demonstran Bakar Gedung MA dan Bank“
Fuad Minta Aparat Tegas Tangani Karhutla
Fuad menilai aparat penegak hukum perlu mengambil tindakan tegas terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan. Ia juga mendorong pemerintah menyita perkebunan sawit yang terbukti terlibat dalam pembakaran.
Menurut Fuad, penegakan hukum harus memberikan konsekuensi nyata kepada pihak yang melanggar aturan. Karena itu, ia meminta aparat tidak membiarkan pelaku pembakaran menjalankan aktivitasnya tanpa pertanggungjawaban.
“Kalau ada sawit yang dibakar, sita,” ujar Fuad dalam program tersebut.
Meski begitu, aparat tetap perlu menyelidiki setiap kasus berdasarkan bukti dan ketentuan hukum yang berlaku. Penyitaan lahan juga harus mengikuti prosedur hukum serta hasil pemeriksaan terhadap pihak terkait.
Karhutla dapat menimbulkan dampak serius bagi masyarakat dan lingkungan. Selain merusak ekosistem, kebakaran juga dapat memperburuk kualitas udara dan mengganggu aktivitas warga.
Fuad Soroti Dampak Penurunan Harga Saham
Selain membahas karhutla, Fuad turut menyinggung penurunan harga saham belakangan ini. Ia menilai gejolak pasar saham tidak selalu memberikan dampak langsung yang besar kepada masyarakat kecil.
Menurut Fuad, aktivitas di pasar saham melibatkan kelompok pelaku tertentu yang melakukan transaksi untuk memperoleh keuntungan. Karena itu, ia menilai kerugian investor saham tidak otomatis membebani seluruh masyarakat.
“Yang main saham hanya segelintir. Dolar ada pengaruhnya,” kata Fuad.
Namun, Fuad membedakan dampak pasar saham dengan pergerakan nilai tukar dolar. Menurutnya, perubahan nilai dolar dapat memberikan pengaruh lebih luas terhadap perekonomian.
Pergerakan nilai tukar dapat memengaruhi harga barang impor dan biaya produksi sejumlah sektor usaha. Dampaknya terhadap masyarakat juga bergantung pada kondisi ekonomi serta kebijakan yang berlaku.
Penegakan Hukum dan Stabilitas Ekonomi Jadi Sorotan
Pernyataan Fuad menyoroti dua persoalan berbeda, yakni penanganan karhutla dan gejolak pasar keuangan. Dalam isu karhutla, ia menekankan pentingnya penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran.
Sementara itu, ia menilai penurunan harga saham lebih banyak berkaitan dengan risiko yang dihadapi pelaku pasar. Meski demikian, perubahan nilai tukar tetap perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi perekonomian masyarakat.
Dugaan mengenai motif politik di balik karhutla masih memerlukan penyelidikan dan bukti pendukung. Karena itu, aparat perlu mengungkap penyebab kebakaran serta memastikan pertanggungjawaban pihak yang terbukti melanggar hukum.
“Baca Juga: Bahaya Kol Goreng bagi Kesehatan, Ini Kata Menkes“





