Greenhill Ciwidey – Praktisi hukum Agus Widjajanto menanggapi polemik film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.
Agus menilai masyarakat perlu menyikapi polemik tersebut secara objektif dan proporsional. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab moral.
“Baca Juga: Mudik Gratis DKI 2026 Dibuka, Ini Syaratnya“
Agus Tekankan Tanggung Jawab dalam Berkarya
Menurut Agus, film dokumenter memiliki ruang untuk menyampaikan kritik sosial dan realitas tertentu.
Namun, ia menilai kebebasan berkarya tetap harus berjalan bersama tanggung jawab kepada publik.
Agus mengatakan pembuat karya perlu memperhatikan akurasi data dan sensitivitas sosial dalam setiap narasi yang disampaikan.
Selain itu, ia menyoroti distribusi film yang berlangsung di luar jalur bioskop komersial dan tanpa proses sensor resmi.
Menurutnya, langkah tersebut tetap membawa konsekuensi dalam ruang publik.
Demokrasi Harus Beri Ruang Dialog
Agus menegaskan kritik tidak selalu mutlak benar. Sebaliknya, respons terhadap kritik juga tidak otomatis dianggap anti-demokrasi.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak melihat polemik tersebut secara hitam-putih.
Menurut Agus, demokrasi seharusnya menjadi ruang dialog terbuka. Demokrasi juga perlu memberi ruang untuk klarifikasi, verifikasi, dan tanggung jawab terhadap fakta.
Ia menilai tayangan tanpa sensor berpotensi membentuk opini publik yang tidak seimbang jika tidak disertai tanggung jawab.
Dokumenter Harus Berdasarkan Data dan Fakta
Agus mengatakan film dokumenter tidak cukup hanya menyentuh emosi penonton. Dokumenter juga harus memiliki tanggung jawab akademik dan etik.
Ia menyoroti tema sensitif dalam film seperti Papua, kolonialisme, dan ketimpangan sosial.
Menurut Agus, pembuat dokumenter perlu menyusun narasi berdasarkan data dan fakta yang jelas.
Selain itu, ia meminta masyarakat melihat persoalan Papua dari berbagai sudut pandang.
Agus mengingatkan bahwa pembangunan, pendidikan, kesehatan, dan keterlibatan masyarakat Papua juga perlu mendapat perhatian.
Kritik Harus Dijawab dengan Argumentasi
Agus meminta masyarakat merespons perbedaan pendapat melalui data dan argumentasi yang sehat.
Ia menolak penggunaan intimidasi maupun pelabelan terhadap pihak yang berbeda pandangan.
Selain itu, Agus juga meminta pembuat karya terbuka terhadap kritik publik. Ia menilai pembuat film perlu siap menerima tanggung jawab moral maupun hukum.
Literasi Media Dinilai Sangat Penting
Agus berharap polemik film ini dapat menjadi momentum membangun budaya diskusi yang lebih sehat.
Ia menilai ruang publik, kampus, dan dunia seni perlu membuka dialog yang lebih terbuka dan dewasa.
Selain itu, Agus juga menyoroti pentingnya literasi media di era digital.
Menurutnya, arus informasi media sosial sering membuat masyarakat lebih cepat bereaksi emosional dibanding memeriksa fakta secara mendalam.
Karena itu, Agus mengajak masyarakat lebih kritis dan lebih bijak saat menerima informasi di internet.






