Greenhill Ciwidey – Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo terus menunjukkan peningkatan. Pemerintah melaporkan sebanyak 2.011 kasus terkonfirmasi dengan 754 korban meninggal hingga pertengahan Juli 2026.
Data tersebut menjadikan wabah ini sebagai wabah Ebola terbesar ketiga sekaligus salah satu yang berkembang paling cepat di negara tersebut. Organisasi kemanusiaan Médecins Sans Frontières (MSF) menilai situasi saat ini membutuhkan respons yang lebih cepat.
“Baca Juga: Roy Suryo Siapkan Praperadilan Ketiga soal Pasal 35 UU ITE“
Jumlah Kasus Terus Bertambah
Pemerintah Republik Demokratik Kongo terus mencatat penambahan kasus baru setiap hari.
MSF menyebut penyebaran virus berlangsung lebih cepat dibandingkan sejumlah wabah sebelumnya. Kondisi tersebut meningkatkan tekanan terhadap fasilitas kesehatan yang sudah terbatas.
Selain itu, tenaga medis harus menangani pasien dalam jumlah besar dengan sumber daya yang minim.
Pemogokan Tenaga Medis Hambat Penanganan
Penanganan wabah juga menghadapi kendala serius di lapangan.
Sejumlah tenaga kesehatan di Rumah Sakit Umum Bunia melakukan aksi mogok kerja. Mereka menutup akses masuk rumah sakit sebagai bentuk protes karena belum menerima gaji.
Padahal, para tenaga medis tetap bekerja di tengah risiko tinggi selama wabah berlangsung.
Situasi tersebut memperlambat pelayanan bagi pasien yang membutuhkan penanganan segera.
Virus Bundibugyo Tingkatkan Tantangan
Wabah kali ini berasal dari virus Ebola jenis Bundibugyo.
Jenis virus tersebut lebih jarang ditemukan dibandingkan virus Ebola Zaire yang lebih dikenal.
Hingga saat ini, dunia medis belum memiliki vaksin maupun pengobatan yang telah disetujui khusus untuk virus Bundibugyo.
Akibatnya, tenaga kesehatan harus mengandalkan perawatan intensif dan upaya pencegahan untuk mengurangi penyebaran.
Ebola Menyebar Melalui Kontak Langsung
Virus Ebola menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang atau hewan yang terinfeksi.
Penderita biasanya mengalami demam tinggi, muntah, tubuh lemas, serta perdarahan di dalam maupun luar tubuh.
Karena tingkat kematiannya tinggi, pasien memerlukan penanganan medis secepat mungkin.
Petugas kesehatan juga harus menggunakan alat pelindung agar tidak tertular saat merawat pasien.
MSF Desak Respons Lebih Cepat
MSF meminta pemerintah dan organisasi internasional segera memperluas upaya penanganan.
Manajer Program Darurat MSF, Trish Newport, menilai setiap keterlambatan akan meningkatkan jumlah korban.
Menurutnya, tim kesehatan masih mengejar penyebaran wabah, bukan mencegah penyebaran sebelum meluas.
Karena itu, MSF mendorong peningkatan kapasitas perawatan, pelacakan kontak, dan pengawasan di wilayah terdampak.
WHO Sebut Wabah Masih Memasuki Fase Ekspansi
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memberikan peringatan mengenai perkembangan wabah.
WHO menyatakan Ebola masih berada dalam fase ekspansi. Pergerakan penduduk dan keterlambatan pengobatan menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran.
Selain itu, banyak daerah di luar kota masih memiliki akses kesehatan yang terbatas.
Sistem pemantauan kasus juga menghadapi tekanan akibat meningkatnya jumlah pasien.
Komunitas Terpencil Butuh Dukungan Lebih Besar
MSF menilai masyarakat di wilayah terpencil menghadapi tantangan yang lebih berat.
Banyak fasilitas kesehatan belum mampu memberikan layanan optimal. Selain itu, distribusi tenaga medis dan peralatan kesehatan juga masih terbatas.
Kondisi tersebut membuat deteksi dini dan penanganan pasien berjalan lebih lambat.
Karena itu, kerja sama antara pemerintah, WHO, dan organisasi kemanusiaan menjadi sangat penting untuk menekan penyebaran Ebola.
Wabah ini menunjukkan bahwa respons cepat dan dukungan tenaga kesehatan menjadi faktor utama dalam mengendalikan penyakit menular. Tanpa langkah yang lebih luas dan terkoordinasi, jumlah kasus dan korban diperkirakan masih dapat terus meningkat.
“Baca Juga: Sering Main HP Saat BAB? Ini Risiko Kesehatannya“






