Greenhill Ciwidey – Aksi protes nasional kembali mengguncang Prancis pada Kamis, 5 November 2026. Ratusan ribu warga turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan mengenai upah dan kenaikan biaya hidup.
Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat 448 penangkapan hingga pukul 18.00 waktu setempat. Selain itu, bentrokan selama demonstrasi menyebabkan 53 petugas kepolisian mengalami luka-luka.
Kementerian juga melaporkan 86 insiden kebakaran di berbagai wilayah. Meski sebagian besar demonstrasi berlangsung damai, sejumlah kota mengalami ketegangan.
Paris, Lyon, Rennes, dan Toulouse menjadi beberapa lokasi yang menghadapi situasi paling panas. Aparat keamanan kemudian menangani sejumlah gangguan selama aksi berlangsung.
“Baca Juga: Hubert Aiwanger Dikabarkan Meninggal di Hotel Berlin“
Jumlah Peserta Protes Capai Ratusan Ribu Orang
Kementerian Dalam Negeri memperkirakan sekitar 575.000 orang mengikuti demonstrasi di seluruh Prancis. Jumlah tersebut mencakup sekitar 65.000 peserta di Paris.
Angka terbaru itu lebih rendah dibandingkan perkiraan awal yang mendekati 600.000 orang. Namun, serikat pekerja CGT menyampaikan angka yang jauh lebih besar.
CGT memperkirakan hampir 1,6 juta orang mengikuti aksi nasional tersebut. Organisasi itu juga mencatat sekitar 350.000 demonstran turun ke jalan di Paris.
Perbedaan data tersebut menunjukkan besarnya skala demonstrasi. Selain itu, angka tersebut memperlihatkan perbedaan metode penghitungan antara pemerintah dan serikat pekerja.
Serikat Pekerja Desak Pemerintah Naikkan Upah
Sekretaris Jenderal CGT, Sophie Binet, menilai aksi mogok nasional tersebut berjalan sangat efektif. Ia juga mendesak pemerintah segera menanggapi tuntutan para pekerja.
Dalam demonstrasi di Paris, Binet menyerukan kenaikan upah bagi seluruh pekerja. Ia juga meminta pemerintah menaikkan upah minimum sebesar 10 persen.
Binet menegaskan bahwa para pekerja tidak akan menghentikan perjuangan mereka. Menurutnya, pemerintah perlu mengambil langkah nyata untuk menjawab persoalan kesejahteraan.
Sementara itu, Perdana Menteri Sebastien Lecornu mengumumkan rencana pertemuan sosial. Pemerintah akan mengundang serikat pekerja dan organisasi pengusaha ke Matignon pada Senin, 8 November 2026.
Pertemuan tersebut diharapkan membuka ruang dialog antara pemerintah dan perwakilan pekerja. Namun, pemerintah masih perlu mencari solusi yang mampu menjawab tuntutan para demonstran.
Aksi Mogok Ganggu Sekolah dan Universitas
Dampak demonstrasi juga meluas ke sektor pendidikan. Aksi mogok nasional mengganggu kegiatan belajar mengajar di sejumlah sekolah dan universitas.
Kementerian Pendidikan Tinggi mencatat gangguan di 60 dari 184 institusi. Sementara itu, serikat pekerja SNES-FSU menyebut 52 persen staf sekolah menengah ikut melakukan aksi mogok.
Selain mengganggu kegiatan pendidikan, demonstrasi juga memicu blokade pelajar di beberapa kota. Polisi turun tangan untuk menangani blokade tersebut, termasuk di Paris dan Bordeaux.
Gerakan pelajar sebenarnya sudah berlangsung sejak pertengahan September. Mereka menyoroti kondisi pendidikan, masalah pendanaan, serta kurangnya ketersediaan tenaga pengajar dan staf.
Pemerintah Hadapi Tekanan dari Pekerja dan Pelajar
Gelombang protes ini memperlihatkan besarnya tekanan terhadap pemerintah Prancis. Pekerja menuntut peningkatan kesejahteraan, sedangkan pelajar menyoroti persoalan pendidikan.
Kini, pemerintah menghadapi tantangan untuk meredakan ketegangan melalui dialog. Pertemuan sosial pada 8 November menjadi salah satu langkah penting untuk membahas tuntutan tersebut.
Hasil pertemuan itu akan menjadi perhatian serikat pekerja dan masyarakat. Mereka menantikan langkah konkret pemerintah dalam merespons kenaikan biaya hidup dan persoalan upah.
“Baca Juga: Olahraga Berat Picu Henti Jantung? Kenali 3 Cara Mencegahnya“





