Greenhill Ciwidey – DPR Desak TNI-Polri: Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah, meminta TNI dan Polri menjatuhkan sanksi tegas pada aparat pelaku kekerasan. Ia menegaskan hukuman harus mencakup pidana hingga pemecatan. Tujuannya agar ada efek jera bagi oknum yang memukul warga sipil.
Abdullah menyampaikan hal itu setelah banyak kasus pemukulan oleh aparat muncul ke publik. Salah satunya kasus pengemudi ojek online, Teguh Sukma, yang menjadi korban pemukulan anggota TNI AL di Pontianak.
“Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis: Pemda Desak Peran Lebih Awasi“
Kasus Kekerasan Kerap Terulang
Abdullah menilai kasus serupa terus berulang. Ia mengingatkan, bukan hanya driver ojol yang menjadi korban. Sebelumnya, guru, mahasiswa, dan siswa juga sering mengalami kekerasan aparat. Ia lalu bertanya, siapa lagi korban berikutnya jika aturan tidak ditegakkan.
Menurutnya, institusi penegak hukum harus menjaga wibawa dengan menindak tegas pelaku kekerasan. Jika tidak, masyarakat akan kehilangan kepercayaan terhadap TNI dan Polri.
Seruan Transparansi Penegakan Hukum
Abdullah menekankan bahwa aparat harus menegakkan hukum secara adil, transparan, dan tanpa diskriminasi. Selain itu, ia mengingatkan bahwa perlakuan berbeda hanya akan merusak kepercayaan publik. Oleh karena itu, rakyat menunggu bukti nyata keseriusan TNI dan Polri dalam memberikan keadilan.
Selanjutnya, Komisi III DPR menunjukkan komitmen untuk mengawasi proses penegakan hukum dalam setiap kasus kekerasan. Abdullah menegaskan bahwa DPR akan terus memastikan hak-hak warga tetap terlindungi. Lebih jauh, ia menyebut pengawasan tersebut juga mendukung program reformasi hukum yang Presiden Prabowo Subianto canangkan.
Negara Harus Hadir Melindungi Warga
Abdullah menegaskan negara harus hadir untuk melindungi warga dari segala bentuk kekerasan. Ia menyebut, hukum harus dijalankan dengan profesional dan berintegritas. Hanya dengan cara itu, rakyat bisa merasa aman dari ancaman oknum aparat.
Ia juga memperingatkan, jika TNI dan Polri tidak bersikap tegas, kasus serupa akan terus terjadi. Kondisi ini dapat memperlemah kepercayaan masyarakat pada institusi hukum.
Kasus Pengemudi Ojol di Pontianak
Kasus Teguh Sukma menjadi sorotan utama. Teguh, seorang pengemudi ojek online berusia 48 tahun, mengalami luka serius setelah dipukul Letda FA, anggota TNI AL. Peristiwa itu terjadi pada Sabtu sore, 20 September 2025, di Pontianak Barat.
Awalnya, pelaku terburu-buru menuju rumah sakit. Namun, ia tersulut emosi karena korban membunyikan klakson berulang kali. Cekcok terjadi di jalan hingga berujung pemukulan. Teguh mengalami patah hidung, sesak napas, dan harus dirawat di rumah sakit.
Kasus Kekerasan di Jakarta Selatan
Selain kasus Pontianak, publik juga dikejutkan oleh insiden di Jakarta Selatan. Korban bernama Faisal, karyawan dari artis Zaskia Adya Mecca. Kejadian itu berlangsung pada Senin, 22 September 2025, di Jalan Ampera Raya.
Saat itu, Faisal sedang mengantar anak Zaskia ke sekolah. Ia mengingatkan seorang pengendara motor yang melawan arah. Namun, pengendara itu marah dan mengaku sebagai anggota aparat. Tanpa basa-basi, pelaku langsung memukul Faisal.
Anak Zaskia yang menyaksikan peristiwa tersebut mengalami trauma. Rekaman CCTV insiden viral di media sosial dan menimbulkan reaksi publik.
DPR Desak TNI-Polri: Akan Terus Awasi Kasus Kekerasan
Abdullah menegaskan DPR akan terus mengawasi kasus-kasus kekerasan seperti ini. Ia berharap TNI dan Polri tidak hanya memberi sanksi administratif, tetapi juga pidana. Dengan begitu, masyarakat merasa hukum benar-benar ditegakkan.
Abdullah menutup dengan pesan bahwa keadilan harus ditegakkan untuk semua warga. Ia mengingatkan, jika hukum berjalan tanpa diskriminasi, maka kepercayaan rakyat akan tetap terjaga.
“Baca Juga: PAN Puji Pidato Prabowo di PBB Dukung Palestina Merdeka“





