Greenhill Ciwidey – Sebuah perahu migran tenggelam di lepas pantai Libya dan menewaskan sedikitnya 53 orang.
Korban tewas termasuk dua bayi, menurut laporan resmi badan migrasi PBB.
Insiden ini terjadi di jalur Mediterania tengah yang terkenal sangat berbahaya.
Rute tersebut sering digunakan migran ilegal yang mengejar kehidupan lebih baik di Eropa.
Namun, jalur ini terus memakan korban jiwa setiap tahun.
“Baca Juga: Cuaca Dingin Picu Fenomena Hujan Iguana di Florida“
Kronologi Tenggelamnya Perahu Migran
Organisasi Internasional untuk Migrasi menyampaikan detail kejadian melalui pernyataan resmi.
Perahu membawa 55 migran asal Afrika dan berangkat dari Zawiya, Libya barat.
Keberangkatan terjadi sesaat sebelum tengah malam pada Kamis, 5 Februari 2026.
Sekitar enam jam kemudian, perahu mulai kemasukan air.
Kondisi tersebut membuat perahu terbalik pada Jumat pagi.
Lokasi kecelakaan berada di utara kota Zuwara, wilayah pesisir Libya.
Cuaca dan kondisi kapal memperparah situasi di tengah laut.
Dua Migran Nigeria Berhasil Selamat
Dua perempuan asal Nigeria berhasil selamat dari kecelakaan tersebut.
Pihak berwenang Libya mengevakuasi keduanya setelah kejadian.
Salah satu korban selamat mengaku kehilangan suaminya dalam insiden itu.
Sementara itu, korban lainnya melaporkan kehilangan dua bayinya.
Kesaksian tersebut menggambarkan tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan.
Banyak keluarga kehilangan anggota tanpa kepastian.
Jaringan Penyelundup Manusia Terus Beroperasi
IOM menegaskan jaringan perdagangan manusia terus mengeksploitasi migran.
Mereka beroperasi di sepanjang rute Mediterania tengah.
Jaringan tersebut menggunakan perahu tidak layak demi keuntungan besar.
Mereka mengangkut migran dari Libya menuju pantai Eropa.
Pernyataan ini juga dikutip oleh Associated Press.
IOM menilai praktik tersebut sangat berbahaya dan tidak manusiawi.
Libya Jadi Titik Transit Utama Migran
Dalam beberapa tahun terakhir, Libya menjadi titik transit utama migran.
Migran melarikan diri dari perang, konflik, dan kemiskinan.
Kondisi ini memburuk sejak kejatuhan Moammar Gadhafi pada 2011.
Pemberontakan yang didukung NATO menciptakan kekacauan berkepanjangan.
Akibatnya, pengawasan perbatasan melemah dan penyelundupan meningkat.
Jumlah Korban Terus Meningkat pada 2026
IOM mencatat 484 migran tewas atau hilang sepanjang 2026.
Data tersebut berasal dari proyek Migran Hilang milik IOM.
Tahun sebelumnya, lebih dari 1.300 migran tewas atau hilang.
Angka ini menunjukkan risiko ekstrem di rute Mediterania tengah.
IOM menegaskan tragedi berulang ini menyoroti bahaya nyata bagi migran.
Kondisi Penahanan Migran di Libya Sangat Memprihatinkan
Penyelundup manusia memanfaatkan kekacauan Libya selama bertahun-tahun.
Mereka menyelundupkan migran melalui perbatasan panjang dengan enam negara.
Migran sering dipaksa berlayar menggunakan kapal penuh sesak.
Banyak kapal berupa perahu karet yang tidak memadai.
Pihak berwenang Libya menahan migran yang berhasil dicegat.
Mereka ditempatkan di pusat penahanan milik pemerintah.
Laporan PBB menyebut pelanggaran serius terjadi di pusat tersebut.
Pelanggaran meliputi kerja paksa, pemukulan, dan penyiksaan.
Selain itu, pelaku kerap memeras keluarga korban untuk meminta uang.
Praktik ini menambah penderitaan migran sebelum kembali diselundupkan.
Tragedi ini kembali menegaskan krisis kemanusiaan di Mediterania tengah.
“Baca Juga: Rapim TNI–Polri di Istana Perkuat Stabilitas Nasional“





