Greenhill Ciwidey – Krisis Peru: Parlemen Peru memecat Presiden Dina Boluarte pada Jumat, 10 Oktober 2025. Keputusan ini muncul setelah pemungutan suara bulat yang dilakukan anggota parlemen.
Pemecatan tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah blok politik besar mengajukan mosi pemecatan terhadap Boluarte. Mereka menilai presiden berusia 63 tahun itu memiliki “ketidakmampuan moral”.
“Baca Juga: DPR Dorong TNI Profesional untuk Perkuat Pertahanan Nasional“
Jose Jeri Naik Jabatan Jadi Presiden
Ketua Kongres Jose Jeri langsung dilantik sebagai pengganti Boluarte. Ia kini menjadi presiden ketujuh Peru sejak 2016.
Dalam pidato pelantikannya di hadapan Kongres, Jeri tampil mengenakan selempang bendera nasional. Ia menyatakan komitmen untuk melawan meningkatnya kejahatan yang selama ini mengancam masyarakat.
“Musuh utama ada di jalanan: geng kriminal,” kata Jeri seperti dikutip dari Reuters. “Kita harus menyatakan perang terhadap kejahatan.”
Latar Belakang dan Profil Jose Jeri
Jose Jeri berasal dari partai konservatif Somos Peru. Ia menjabat sebagai presiden Kongres sejak Juli lalu.
Kini, Jeri menjadi salah satu kepala negara termuda di dunia.
Ia menegaskan bahwa pemerintahannya akan berfokus pada keamanan publik dan stabilitas sosial yang selama ini melemah di bawah kepemimpinan Boluarte.
Reaksi Publik dan Situasi di Lapangan
Setelah parlemen mengumumkan pemecatan, ribuan warga berkumpul di luar gedung Kongres dan Kedutaan Besar Ekuador.
Banyak warga merayakan keputusan itu dengan mengibarkan bendera, menari, dan memainkan alat musik.
Beberapa laporan menyebut bahwa Boluarte berencana mencari suaka ke Ekuador, tetapi pihak terkait belum mengonfirmasi rencana tersebut.
Pidato Terakhir Dina Boluarte
Tak lama setelah pemecatannya, Boluarte berpidato di istana kepresidenan.
Ia mengakui bahwa Kongres yang dulu melantiknya kini telah memilih untuk mencopotnya.
Boluarte menyebut keputusan itu membawa konsekuensi serius bagi stabilitas demokrasi Peru.
Ia tetap menyerukan persatuan di tengah situasi politik yang memanas.
Proses Pemakzulan dan Ketidakhadiran Boluarte
Pada Kamis malam, 9 Oktober 2025, parlemen memanggil Boluarte untuk membela diri dalam sidang.
Namun, ia tidak hadir sehingga proses pemakzulan berlanjut dan menghasilkan suara mayoritas untuk memberhentikannya.
Ketiadaannya mempercepat keputusan pemecatan tersebut.
Popularitas Rendah dan Tuduhan Korupsi
Popularitas Boluarte menurun tajam hingga mencapai 2–4 persen.
Ia dituduh menyalahgunakan jabatan dan bertanggung jawab atas tindakan keras terhadap pendukung mantan presiden Pedro Castillo.
Boluarte juga menghadapi tuduhan pengayaan ilegal, termasuk kepemilikan aset tak dilaporkan dan jam tangan mewah.
Pada Juli lalu, ia menimbulkan kontroversi setelah menaikkan gajinya sendiri.
Boluarte membantah seluruh tuduhan tersebut.
Krisis Kepemimpinan yang Tak Berhenti
Pemecatan Boluarte memperpanjang daftar pergantian kepemimpinan di Peru.
Negara di kawasan Andes itu telah memiliki tujuh presiden hanya dalam sembilan tahun terakhir.
Tiga mantan pemimpin bahkan kini mendekam di penjara atas kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
Dukungan Politik dan Agenda ke Depan
Perubahan sikap politik di Kongres terlihat jelas kali ini.
Beberapa partai sayap kanan yang sebelumnya mendukung Boluarte kini ikut mendesak pemecatannya.
Di antaranya Popular Renewal dan Popular Force, dua partai yang diperkirakan akan mencalonkan tokoh mereka dalam pemilu April 2026.
Dengan dukungan tersebut, Jeri mendapat peluang besar untuk memperkuat basis politiknya menjelang pemilihan umum mendatang.
Kesimpulan: Babak Baru Politik Peru
Pemecatan Dina Boluarte menandai babak baru dalam sejarah politik Peru yang terus bergolak.
Jose Jeri berjanji memulihkan keamanan dan kepercayaan publik.
Namun, tantangan besar menantinya: menjaga stabilitas politik dan mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan.
“Baca Juga: Pria ODGJ di Cilandak Tusuk 4 Orang, Kini Diobservasi“





