Greenhill Ciwidey – Penembakan terhadap dua anggota Garda Nasional di pusat kota Washington DC memicu perhatian besar publik Amerika Serikat. Pelaku bernama Rahmanullah Lakanwal, pria Afghanistan berusia 29 tahun, diduga menempuh perjalanan ribuan mil hanya untuk melakukan serangan tersebut. Informasi baru mengungkap bahwa Lakanwal memiliki hubungan dengan CIA saat masih berada di Afghanistan.
Menurut laporan pihak berwenang, Lakanwal menembak dua prajurit muda, Sarah Beckstrom dan Andrew Wolfe, pada Rabu sore. Keduanya masih dalam kondisi kritis di rumah sakit. Lokasi kejadian hanya berjarak beberapa blok dari Gedung Putih.
“Baca Juga: Fakta Baru Kasus Alvaro: Ayah Tiri Ubah Rencana Pembuangan“
Latar Belakang Lakanwal dan Hubungan dengan Pasukan AS
Laporan BBC menyebut bahwa Lakanwal bekerja bersama pasukan AS sebelum pindah ke Amerika. Seorang mantan komandan yang mengenalnya mengatakan bahwa Lakanwal membantu menjaga bandara Kabul saat ribuan warga mencoba melarikan diri sebelum Taliban mengambil alih.
Komandan itu menggambarkan Lakanwal sebagai pria atletis dan periang. Ia juga mengatakan bahwa Lakanwal bekerja sebagai spesialis pelacak GPS di Unit 03 Pasukan Serbu Kandahar. Unit tersebut dikenal sebagai Pasukan Kalajengking yang awalnya berada di bawah CIA, kemudian berada di bawah Direktorat Keamanan Nasional Afghanistan.
Lima hari sebelum Taliban memasuki Kabul, unit tersebut dipindahkan dari Kandahar ke Kabul. Mereka menjaga bandara selama enam hari. Setelah itu, pemerintah AS memindahkan mereka ke Amerika melalui jalur evakuasi darurat.
Dalam konferensi pers, Direktur FBI Kash Patel membenarkan hubungan Lakanwal dengan pasukan mitra AS di Afghanistan. Informasi ini menunjukkan bahwa Lakanwal bukan sosok asing bagi lembaga keamanan Amerika.
Kedatangan ke AS Melalui Program Khusus
Setelah penarikan pasukan AS dari Afghanistan, pemerintahan Biden menciptakan program Operation Allies Welcome. Program ini memberi perlindungan imigrasi khusus bagi warga Afghanistan yang pernah bekerja bersama pasukan AS.
Sekitar 77.000 warga Afghanistan masuk ke AS melalui program ini. Lakanwal termasuk di antara mereka. Ia mendapat izin tinggal sementara pada 2021 atas dasar kemanusiaan. Ia kemudian mengajukan suaka pada 2024, dan pemerintah mengabulkan permohonannya awal 2025.
Namun beberapa laporan menyebut bahwa permohonannya untuk mendapatkan kartu hijau masih tertunda. Direktur CIA John Ratcliffe mengatakan bahwa pemerintah memberi izin masuk kepada Lakanwal karena layanan yang pernah ia berikan kepada CIA saat masih di Afghanistan.
Detail Penembakan di Washington
Jaksa AS Jeanine Pirro menyebut bahwa penembakan ini merupakan serangan yang ditargetkan. Lakanwal diketahui berkendara dari negara bagian Washington menuju ibu kota untuk melancarkan aksi tersebut.
Setelah ia menembak dua anggota Garda Nasional, prajurit lain di lokasi segera melepaskan tembakan balasan dan menahan Lakanwal. Ia mengalami luka tembak dan kini dirawat di rumah sakit. Lakanwal menghadapi ancaman hukuman lebih dari sepuluh tahun penjara atas dakwaan penyerangan bersenjata dan kepemilikan senjata dalam tindak kekerasan.
Dampak Politik dan Kebijakan Imigrasi
Insiden ini langsung memicu respons keras dari Presiden Donald Trump. Ia menyebut penembakan ini sebagai “tindakan teror” dan berjanji mengambil langkah tegas. Presiden mengatakan bahwa pemerintah akan mengeluarkan warga asing yang tidak memenuhi syarat untuk tinggal di Amerika.
Pada Rabu, pemerintah menangguhkan semua permintaan imigrasi dari warga Afghanistan. Trump juga mengatakan bahwa pemerintah perlu memeriksa kembali seluruh warga Afghanistan yang masuk ke AS pada masa pemerintahan Biden.
Keesokan harinya, Kepala Layanan Kewarganegaraan dan Imigrasi Joseph Edlow mengatakan bahwa presiden memerintahkannya untuk melakukan pemeriksaan ulang terhadap seluruh pemilik Green Card dari negara yang dianggap berisiko.
Penambahan Pasukan Garda Nasional di Washington
Presiden Trump menegaskan bahwa ia akan menambah 500 anggota Garda Nasional untuk menjaga jalanan Washington. Lebih dari 2.000 pasukan sudah berada di kota sejak Agustus. Pemerintah menggunakannya untuk menekan angka kejahatan yang dianggap meningkat tajam.
Garda Nasional sendiri merupakan pasukan cadangan dengan peran khusus. Mereka dapat bertugas dalam situasi darurat, tetapi tidak memiliki kewenangan penangkapan.
Pelaku Penembakan Garda Nasional AS:
Kasus Lakanwal Masih Menyisakan Banyak Pertanyaan
Peristiwa ini membuka kembali perdebatan tentang kebijakan imigrasi dan keamanan nasional. Kasus Lakanwal juga memicu diskusi mengenai proses pemeriksaan warga asing yang memasuki AS melalui program bantuan.
Penyelidikan masih berlangsung. Publik menunggu jawaban mengenai motif, jaringan, dan kemungkinan ancaman lain yang berkaitan dengan kasus ini. Pemerintah berjanji memberikan laporan lengkap setelah proses hukum berjalan.






