Greenhill Ciwidey – Armada bantuan kemanusiaan internasional bernama Global Sumud Flotilla bersiap meninggalkan perairan Yunani menuju Gaza. Armada ini terdiri dari sekitar 50 kapal sipil. Penumpang kapal berasal dari kalangan pengacara, anggota parlemen, aktivis, hingga pegiat iklim Swedia Greta Thunberg.
Mereka bertekad menembus blokade laut yang diberlakukan Israel terhadap Gaza. Pelayaran armada melalui Laut Mediterania ini memicu perhatian global. Situasi semakin tegang setelah penyelenggara melaporkan adanya dugaan serangan drone.
Dugaan Serangan Drone Picu Respons Eropa
Penyelenggara melaporkan drone menyerang salah satu kapal, meski tidak menimbulkan korban jiwa. Insiden ini mendorong Italia dan Spanyol mengirim kapal angkatan laut. Kedua negara mengaku ingin melindungi warga negaranya dan warga Eropa lainnya yang ikut dalam armada.
Yunani juga menyampaikan jaminan keamanan selama armada masih berada di perairannya. Namun setelah keluar dari wilayah Yunani, tantangan semakin besar. Penyelenggara memperkirakan kapal-kapal tersebut akan tiba di Gaza pada awal pekan depan.
Israel Tegaskan Penolakan Armada
Israel kembali menegaskan sikap kerasnya. Pemerintah menyatakan tidak akan mengizinkan armada kemanusiaan masuk ke Gaza. Israel menuduh pelayaran ini akan membantu Hamas, meskipun penyelenggara menolak tuduhan tersebut.
Tentara Israel juga mengklaim bertanggung jawab atas operasi drone yang mengganggu armada. Pihak penyelenggara menilai tindakan itu sebagai upaya intimidasi. Namun mereka tetap bertekad melanjutkan perjalanan dengan seluruh kapal yang tersedia.
Kendala Teknis Tidak Hentikan Perjalanan
Waktu keberangkatan dari Yunani sempat tertunda karena kerusakan pada salah satu kapal utama. Penyelenggara menyebut kerusakan itu tidak menghentikan rencana mereka. Seluruh kapal sudah bersiap berangkat dengan membawa bantuan makanan, obat-obatan, dan perlengkapan darurat.
Greta Thunberg, yang berada di atas salah satu kapal, menyampaikan pesan solidaritas. Ia menegaskan bahwa pelayaran ini bukan hanya mengirim bantuan. Armada juga ingin menyampaikan harapan dan dukungan dunia terhadap rakyat Palestina.
Usulan Kompromi Gagal Terwujud
Sebelumnya, Italia mengusulkan kompromi agar bantuan diturunkan di Siprus. Dari sana, bantuan akan diserahkan kepada Latin Patriarchate of Jerusalem untuk didistribusikan ke Gaza. Israel mendukung usulan itu karena dianggap lebih aman.
Namun Global Sumud Flotilla menolak ide tersebut. Mereka berpendapat jalur itu tidak menjamin bantuan sampai langsung ke rakyat Gaza. Penyelenggara menilai pelayaran armada lebih efektif menyampaikan pesan solidaritas sekaligus memastikan bantuan benar-benar diterima.
Dukungan Internasional dan Harapan Perdamaian
Situasi di Mediterania kini mendapat sorotan dunia. Beberapa negara Eropa berusaha menjaga keamanan warga negaranya, sementara aktivis internasional tetap mendesak akses kemanusiaan ke Gaza.
Armada Global Sumud Flotilla menjadi simbol perlawanan terhadap blokade laut. Pelayaran ini membawa pesan bahwa masyarakat internasional tidak tinggal diam menghadapi penderitaan rakyat Gaza.






