Greenhill Ciwidey – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mempercepat operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mengurangi dampak El Nino. Langkah ini bertujuan menjaga ketersediaan air di bendungan yang mengalami kekeringan. Selain itu, BMKG ingin memastikan pasokan air baku, irigasi, dan pembangkit listrik tetap aman.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa BMKG mulai menyiapkan berbagai langkah sejak memprediksi kemarau yang bertepatan dengan El Nino pada Maret lalu. BMKG kemudian memperkuat koordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga agar mitigasi berjalan lebih efektif.
Faisal mengatakan BMKG telah menggelar apel siaga di Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Melalui kegiatan tersebut, BMKG memperkuat kesiapan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.
“Baca Juga: Gunung Ibu Erupsi, Kolom Abu Capai 1.525 Mdpl“
BMKG Fokus Mengisi Bendungan yang Mengalami Kekeringan
BMKG juga menjalin koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Kerja sama tersebut berfokus pada pengisian bendungan yang mengalami kekeringan paling parah.
Faisal menjelaskan bahwa El Nino memperpanjang musim kemarau. Selain itu, fenomena tersebut membuat musim hujan datang lebih lambat. Curah hujan juga menurun, sementara suhu udara terus meningkat.
Menurutnya, kenaikan suhu masih akan berlanjut karena bumi membutuhkan waktu lebih lama untuk merespons perubahan iklim. Oleh sebab itu, BMKG memilih bertindak lebih awal agar dampaknya tidak semakin besar.
Saat ini, BMKG menjalankan operasi modifikasi cuaca di sejumlah waduk di Pulau Jawa. Program tersebut bertujuan meningkatkan cadangan air sebelum kondisi kekeringan semakin meluas.
Sebanyak 240 Bendungan Masuk Prioritas Penanganan
BMKG melalui Deputi Bidang Modifikasi Cuaca bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR. Kedua pihak memprioritaskan sekitar 240 bendungan yang mengalami kekeringan paling parah.
Faisal menegaskan bahwa BMKG tidak mengisi seluruh bendungan di Indonesia. Sebaliknya, BMKG memusatkan upaya pada bendungan yang memiliki tingkat kekeringan tertinggi agar hasilnya lebih efektif.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga pasokan air bagi masyarakat. Selain itu, cadangan air juga mendukung kebutuhan pertanian, irigasi, dan pembangkit listrik.
BMKG Gunakan OMC untuk Mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan
Selain menjaga bendungan, BMKG memanfaatkan operasi modifikasi cuaca untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan. Strategi ini mengutamakan tindakan pencegahan sebelum kebakaran terjadi.
Faisal menjelaskan bahwa Kementerian Lingkungan Hidup memantau tinggi muka air di kawasan gambut. Ketika permukaan air turun hingga kurang dari satu meter, BMKG segera berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Selanjutnya, BMKG menjalankan operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan kadar air di lahan gambut. Kondisi tersebut membuat tanah tetap lembap sehingga risiko kebakaran dapat berkurang.
Koordinasi Lintas Sektor Perkuat Mitigasi El Nino
BMKG juga bekerja sama dengan PLN dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kolaborasi tersebut bertujuan menjaga ketahanan energi selama musim kemarau.
Di sisi lain, operasi modifikasi cuaca membantu menjaga ketersediaan air waduk. Program ini juga mengurangi risiko kekeringan dan mendukung upaya pemadaman kebakaran hutan serta lahan.
Faisal menegaskan bahwa keberhasilan menghadapi El Nino bergantung pada koordinasi seluruh pihak. Menurutnya, sinergi antarinstansi menjadi fondasi utama untuk menjaga ketahanan air, energi, dan lingkungan selama musim kemarau.
“Baca Juga: 6 Tanda Kolesterol Naik Setelah Kebanyakan Makan Daging“






