Greenhill Ciwidey – Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyerukan balasan setelah komandan militer Hezbollah tewas dalam serangan Israel di Beirut. Hezbollah mengonfirmasi bahwa Haitham Ali Tabatabai gugur dalam serangan tersebut. Serangan itu terjadi di wilayah selatan ibu kota Lebanon yang menjadi basis kekuatan kelompok itu.
IRGC menegaskan bahwa Hezbollah memiliki hak untuk membalas serangan tersebut. Pernyataan itu muncul pada Rabu, hanya beberapa jam setelah berita kematian Tabatabai menyebar luas.
Eskalasi Terbesar Sejak Gencatan Senjata Tahun Lalu
Serangan yang menewaskan Tabatabai menjadi eskalasi terbesar sejak gencatan senjata rapuh berlaku setahun lalu. Tabatabai sebelumnya naik pangkat selama perang antara Israel dan Hezbollah. Ia menggantikan beberapa pemimpin senior yang gugur dalam konflik sebelumnya.
Israel juga membunuh Hassan Nasrallah pada tahun sebelumnya. Nasrallah memimpin Hezbollah sejak tahun 1992 dan menjadi simbol perlawanan kelompok tersebut. Israel juga menargetkan beberapa sekutu terdekatnya dalam serangkaian operasi militer.
Iran Serukan Konfrontasi Langsung terhadap Israel
Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, mengeluarkan pernyataan keras pada hari Minggu. Ia menyerukan tindakan tegas terhadap Israel dan menuduh Israel memperpanjang konflik untuk kepentingan politik. Ia menilai bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjalankan strategi berbahaya yang memperbesar risiko perang baru.
Larijani menekankan bahwa Iran siap menghadapi Israel jika keadaan memaksa. Pernyataan ini memperlihatkan sikap Iran yang semakin tegas dalam menghadapi ketegangan regional.
Konflik Iran–Israel Terus Panas Meskipun Gencatan Senjata Berlaku
Gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat menghentikan perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni. Namun, kedua negara terus mengeluarkan pernyataan keras sejak saat itu. Konflik itu menjadi konfrontasi langsung pertama antara kedua negara sepanjang sejarah.
Sebelumnya, pertempuran terjadi melalui proksi Iran seperti Hezbollah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan kelompok milisi di Irak. Serangan terbaru menunjukkan bahwa ketegangan kini kembali masuk ke wilayah konfrontasi terbuka.
Israel Akui Serangan atas Rekomendasi Pejabat Militer
Serangan yang menewaskan Tabatabai menghantam sebuah gedung apartemen di wilayah padat Beirut. Daerah itu relatif tenang selama lima bulan terakhir sebelum serangan tersebut terjadi.
Kantor Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa Netanyahu memerintahkan serangan tersebut. Ia bertindak berdasarkan rekomendasi Menteri Pertahanan Israel Katz dan kepala angkatan darat Eyal Zamir. Kantor itu menyatakan bahwa Israel bertekad mencapai tujuannya di lokasi mana pun dan kapan pun.
Diplomasi Tetap Berjalan di Tengah Ketegangan Regional
Pernyataan balasan dari Iran muncul saat negara itu melakukan upaya diplomasi dengan negara Barat. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot di Paris minggu ini. Kementerian Luar Negeri Prancis mengonfirmasi agenda tersebut pada hari Senin.
Pertemuan ini menunjukkan bahwa Iran tetap membuka ruang diplomasi meski ketegangan meningkat. Iran ingin mempertahankan hubungan dengan Eropa sementara mereka menghadapi tekanan dari konflik regional.
Kesimpulan: Risiko Konflik Lebih Besar Terus Menguat
Kematian Haitham Ali Tabatabai memicu gelombang ketegangan baru di kawasan. Iran dan Hezbollah menegaskan hak mereka untuk membalas. Israel juga menunjukkan bahwa mereka siap melanjutkan operasi militer. Situasi ini meningkatkan risiko konflik lebih besar di Timur Tengah dalam waktu dekat.






