Greenhill Ciwidey – Jumlah korban tewas akibat kebakaran feri di Filipina terus bertambah. Penjaga pantai mencatat 76 korban meninggal hingga Sabtu, 12 September 2026.
Petugas menemukan 41 jenazah tambahan di dalam kapal yang hangus terbakar. Tim kemudian membawa jenazah tersebut menuju pelabuhan di Coron, Palawan.
Juru bicara penjaga pantai, Komodor Noemie Cayabyab, menyampaikan perkembangan tersebut melalui pernyataan resmi. Petugas juga terus mencari korban lain yang masih hilang.
“Baca Juga: Prabowo Serukan Persatuan Global South di KTT BRICS“
Petugas Temukan Puluhan Jenazah di Dalam Kapal
Sebelumnya, petugas menemukan lima jenazah setelah kebakaran terjadi. Kemudian, tim menemukan 41 jenazah tambahan di dalam kapal.
Petugas membawa 30 jenazah pertama menuju Coron melalui jalur laut pada Sabtu. Setelah itu, tim forensik mulai menjalankan proses identifikasi korban.
Petugas menyiapkan pemakaman sementara untuk menyimpan jenazah selama proses identifikasi berlangsung. Tim juga menggali liang dengan kedalaman sekitar satu meter.
Pejabat pariwisata Kristine Ablana menjelaskan proses identifikasi kepada wartawan. Keluarga korban akan membantu petugas mengenali barang pribadi milik anggota keluarga mereka.
Setelah keluarga memastikan kepemilikan barang, petugas akan meminta sampel DNA. Tim kemudian menggunakan sampel tersebut untuk membantu proses identifikasi korban.
Puluhan Penumpang dan Awak Berhasil Selamat
Penjaga pantai mencatat 30 penumpang berhasil menyelamatkan diri dari kebakaran tersebut. Dua penumpang yang selamat berasal dari Cile.
Selain itu, 13 awak kapal juga berhasil menyelamatkan diri. Namun, petugas memperkirakan sekitar belasan orang masih belum ditemukan.
Kapal M/V June Aster kini berada sekitar 7,5 kilometer dari garis pantai. Petugas terus melakukan pencarian untuk menemukan korban yang masih hilang.
Api Menyebar Sangat Cepat
Komodor Noemie Cayabyab menjelaskan kronologi awal kebakaran berdasarkan keterangan para penyintas. Menurutnya, api pertama kali muncul dari ruang kargo kapal.
Setelah itu, api menyebar dengan sangat cepat ke bagian lain kapal. Para penyintas bahkan hanya memiliki waktu beberapa detik untuk menyelamatkan diri.
Cayabyab mengatakan para penumpang mendengar suara ledakan keras sebelum melihat asap. Tidak lama kemudian, api langsung melalap bagian kapal.
Kondisi tersebut membuat banyak penumpang tidak sempat mengenakan jaket pelampung. Situasi itu juga menyulitkan proses evakuasi dari kapal.
Filipina Sering Menghadapi Kecelakaan Feri
Filipina memiliki ribuan pulau yang membuat masyarakat sangat bergantung pada transportasi laut. Feri menjadi salah satu pilihan utama karena menawarkan biaya perjalanan yang relatif terjangkau.
Namun, sejumlah kecelakaan feri pernah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Kondisi tersebut kembali menjadi perhatian setelah kebakaran M/V June Aster.
Pada Januari 2026, sebuah feri tiga dek tenggelam di perairan Filipina selatan. Kapal tersebut membawa lebih dari 340 orang ketika kecelakaan terjadi.
Peristiwa tersebut menewaskan sedikitnya 52 orang. Insiden terbaru kembali menunjukkan risiko perjalanan laut bagi masyarakat Filipina.
Kini, petugas masih berupaya menemukan korban yang hilang. Tim juga terus menjalankan proses identifikasi terhadap jenazah yang telah ditemukan.
Pemerintah dan petugas terkait kemudian menghadapi tantangan besar dalam memastikan seluruh korban mendapat penanganan layak. Proses pencarian dan identifikasi masih terus berlangsung.
“Baca Juga: Kurang Tidur Ganggu Memori, Olahraga 20 Menit Membantu“






