Greenhill Ciwidey – Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kampar, Riau.
Jumhur melakukan peninjauan pada Sabtu (22/8/2026). Guru Besar IPB Bambang Hero Saharjo turut mendampingi kegiatan tersebut.
Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan juga mengikuti peninjauan bersama sejumlah pihak terkait. Rombongan memeriksa langsung kawasan yang mengalami kebakaran.
“Baca Juga: Gempa M7,4 Kolombia Tewaskan 321 Orang, 257 Hilang“
Pemerintah Periksa Kondisi Lahan Pascakebakaran
Jumhur dan rombongan mengamati karakteristik lahan yang terbakar. Mereka juga memeriksa kondisi kawasan setelah kebakaran dan langkah penanganan.
Bambang Hero memberikan kajian ilmiah selama peninjauan berlangsung. Ia membantu pemerintah memahami karakter kebakaran dan dampak ekologisnya.
Pemeriksaan lapangan juga dapat membantu memperkirakan penyebab kebakaran. Selain itu, hasil pengamatan dapat mendukung upaya pemulihan lingkungan.
Karena itu, pemerintah tidak hanya mengandalkan laporan administratif. Pemerintah juga membutuhkan data langsung dari lokasi kejadian.
Jumhur Dorong Penanganan dari Hulu hingga Hilir
Jumhur menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh hanya mengandalkan pemadaman. Menurutnya, penanganan karhutla harus mencakup seluruh tahapan.
Tahapan tersebut meliputi pencegahan, pemadaman, pengungkapan penyebab, dan penegakan hukum. Pemerintah juga perlu menjalankan pemulihan lingkungan setelah kebakaran.
“Penanganan karhutla harus kita lakukan dari hulu sampai hilir,” kata Jumhur.
Ia juga menekankan pentingnya penggunaan data dan fakta dalam setiap langkah. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah dapat menentukan tindakan yang lebih tepat.
Polda Riau Tunjukkan Dashboard Green Policing
Dalam kegiatan tersebut, Jumhur dan Bambang Hero menerima pemaparan mengenai Dashboard Green Policing Polda Riau.
Sistem tersebut menggabungkan berbagai informasi terkait perlindungan lingkungan. Polda Riau menggunakan data tersebut untuk mendukung pemantauan dan pencegahan.
Selain itu, sistem membantu jajaran mengevaluasi berbagai program lingkungan. Pendekatan tersebut membuat pemerintah dapat mengukur perkembangan program secara lebih jelas.
Kapolda Riau menjelaskan bahwa dashboard tidak hanya memuat informasi karhutla. Sistem tersebut juga mencatat berbagai program Green Policing yang berjalan di Riau.
Dashboard Catat Ratusan Ribu Pohon
Data Dashboard Green Policing per 22 Agustus 2026 mencatat 226.301 pohon. Data tersebut menunjukkan estimasi penyerapan karbon mencapai 4.978,6 ton CO₂ setiap tahun.
Dashboard juga memetakan 7.349 titik di berbagai wilayah. Selain itu, sistem tersebut mengintegrasikan 110 Jembatan Presisi dalam pemetaan program Polda Riau.
Herry Heryawan mengatakan Polda Riau ingin membangun sistem berbasis data. Sistem tersebut mencatat jumlah pohon, lokasi penanaman, dan sebarannya.
“Semua kita dorong berbasis data,” ujar Herry.
Menurutnya, sistem juga membantu jajaran membaca potensi masalah lebih awal. Dengan begitu, petugas dapat melakukan intervensi sebelum masalah berkembang lebih besar.
Data Jadi Dasar Pengendalian Karhutla
Peninjauan langsung dan penggunaan dashboard menunjukkan pendekatan pemerintah yang semakin berbasis data. Pemerintah ingin menggabungkan pengamatan lapangan dengan sistem pemantauan digital.
Langkah tersebut penting karena karhutla memiliki dampak terhadap lingkungan dan masyarakat. Selain itu, pemerintah perlu memastikan setiap program menghasilkan dampak yang terukur.
Dengan penguatan data dan kajian ilmiah, pemerintah dapat menyusun penanganan secara lebih menyeluruh. Upaya tersebut mencakup pencegahan, penegakan hukum, hingga pemulihan kawasan terdampak.






