Greenhill Ciwidey – Netanyahu Tegaskan Israel: Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengeluarkan pernyataan keras saat mengunjungi permukiman Maale Adumim di Tepi Barat. Pada Kamis (11/9/2025), ia menandatangani perjanjian untuk melanjutkan proyek perluasan permukiman baru. Ribuan unit rumah akan dibangun di kawasan tersebut.
Dalam pidatonya, Netanyahu menyatakan bahwa Palestina tidak akan pernah memiliki negara merdeka. Ia menegaskan wilayah itu adalah bagian sah dari Israel. Ucapan ini langsung memicu reaksi keras dari banyak pihak internasional.
“Baca Juga: Fujian, Kapal Induk Baru China Uji Coba di Perairan Panas“
Proyek E1 yang Menuai Kontroversi
Langkah Netanyahu berhubungan dengan proyek besar bernama E1. Proyek ini rencananya membentang dari Yerusalem Timur hingga Tepi Barat. Pembangunan tersebut akan memisahkan wilayah Tepi Barat dari Yerusalem Timur, yang selama ini dipandang penting bagi Palestina.
Proyek E1 sudah lama memicu perdebatan sengit. Pada tahun 2012 dan 2020, pemerintah Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa menolak rencana tersebut hingga Israel menghentikan proyek itu sementara waktu. Namun, pada Agustus 2025, Komisi Perencanaan Kementerian Pertahanan Israel kembali menyetujui kelanjutan proyek tersebut.
Pemerintah Israel menyiapkan investasi hampir USD1 miliar untuk proyek E1. Mereka akan membangun ribuan rumah baru, jalan raya, serta infrastruktur utama lain di kawasan Tepi Barat.
Dukungan dari Koalisi Sayap Kanan
Dalam acara penandatanganan perjanjian, Netanyahu datang bersama sejumlah anggota koalisinya dari partai-partai nasionalis. Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, ikut hadir dan menunjukkan sikap keras terhadap Palestina.
Kehadiran para politisi garis keras itu memperlihatkan dukungan kuat terhadap rencana pemerintah. Netanyahu juga menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari visi jangka panjang untuk memperkuat klaim Israel di wilayah tersebut.
Dampak terhadap Hubungan Internasional
Keputusan melanjutkan proyek E1 datang hanya dua hari setelah Israel melakukan upaya pembunuhan terhadap beberapa pemimpin Hamas di Qatar. Aksi tersebut menuai kecaman dari banyak negara sekutu Israel, termasuk beberapa negara Barat.
Langkah ini dikhawatirkan dapat memperburuk hubungan diplomatik Israel dengan mitra internasional. Sejumlah negara bahkan mulai mempertimbangkan untuk mengakui secara resmi negara Palestina pada forum Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa akhir bulan ini.
Netanyahu Tegaskan Israel: Masa Depan Solusi Dua Negara
Sebagian besar masyarakat internasional selama ini mendukung solusi dua negara sebagai jalan keluar konflik Israel-Palestina. Konsep tersebut membayangkan berdirinya negara Palestina yang merdeka di Tepi Barat, Gaza, dan Yerusalem Timur.
Namun, dengan adanya proyek E1, banyak pihak menilai peluang perdamaian semakin menipis. Pembangunan permukiman baru berpotensi memutus konektivitas wilayah Palestina dan menyulitkan terwujudnya negara yang berdaulat.
Meski mendapat tekanan global, Netanyahu tetap berpegang pada sikapnya. Ia menekankan bahwa Israel akan terus memperkuat kendali atas wilayah yang dianggap penting secara historis maupun strategis.
“Baca Juga: Sushila Karki Berpeluang Jadi PM Sementara Nepal“






