Greenhill Ciwidey – Wabah Ebola kembali menimbulkan kekhawatiran besar di Republik Demokratik Kongo. Jumlah korban jiwa terus bertambah sejak wabah diumumkan pada pertengahan Mei 2026.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika melaporkan 875 kasus Ebola yang telah terkonfirmasi hingga 18 Juni 2026. Dari jumlah tersebut, 202 orang meninggal dunia.
Angka itu menunjukkan tingkat kematian mencapai sekitar 23 persen. Kondisi tersebut membuat otoritas kesehatan meningkatkan kewaspadaan di wilayah terdampak.
Selain itu, penyebaran virus masih berlangsung di beberapa daerah. Karena itu, pemerintah dan lembaga kesehatan internasional terus memperkuat langkah penanganan.
“Baca Juga: 7 Penyebab Sering Mengantuk yang Tak Boleh Diabaikan“
Ituri Menjadi Pusat Penyebaran Ebola
Sebagian besar kasus muncul di wilayah timur Republik Demokratik Kongo. Provinsi Ituri menjadi daerah yang paling terdampak dalam wabah kali ini.
Data menunjukkan hampir 95 persen kasus berasal dari wilayah tersebut. Sementara itu, Kivu Utara dan Kivu Selatan juga mencatat sejumlah infeksi.
Kepadatan penduduk dan mobilitas masyarakat membuat penularan lebih sulit dikendalikan. Karena itu, petugas kesehatan bekerja lebih intensif di daerah-daerah berisiko tinggi.
Selain melakukan pemeriksaan kesehatan, mereka juga meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan Ebola.
Virus Ebola Mulai Menyebar ke Uganda
Penyebaran Ebola kini tidak hanya terjadi di Kongo. Virus tersebut juga telah menyeberang ke negara tetangga, Uganda.
Otoritas kesehatan Uganda melaporkan 19 kasus terkonfirmasi. Selain itu, dua orang meninggal dunia akibat infeksi tersebut.
Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran akan penyebaran lintas negara. Karena itu, Uganda dan Kongo memperketat pengawasan di wilayah perbatasan.
Petugas kesehatan juga memperkuat pemeriksaan terhadap warga yang melakukan perjalanan antarnegara.
Otoritas Kesehatan Perkuat Sistem Pengawasan
Africa CDC terus memperluas respons untuk mengendalikan wabah. Lembaga tersebut meningkatkan kapasitas laboratorium dan memperbanyak fasilitas pengujian.
Selain itu, mereka mengembangkan sistem pengawasan digital untuk mempercepat pelacakan kasus. Langkah ini membantu petugas menemukan pasien lebih cepat.
Direktur Jenderal Africa CDC, Jean Kaseya, mengingatkan bahwa situasi masih berbahaya. Menurutnya, wabah dapat berkembang lebih besar jika penularan tidak segera dihentikan.
Ia bahkan membandingkan situasi saat ini dengan epidemi Ebola Afrika Barat pada 2014 hingga 2016.
Wabah tersebut menewaskan lebih dari 11.000 orang di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone. Karena itu, para ahli ingin mencegah tragedi serupa kembali terjadi.
Pemerintah Kongo Evaluasi Strategi Penanganan
Menteri Kesehatan Kongo, Roger Kamba, mengunjungi Bunia yang merupakan ibu kota Provinsi Ituri. Kunjungan tersebut bertujuan untuk meninjau langsung kondisi di lapangan.
Ia bertemu dengan petugas kesehatan dan pejabat setempat. Selain itu, ia membahas berbagai tantangan yang menghambat pengendalian wabah.
Pemerintah juga menyiapkan strategi baru untuk mempercepat penanganan. Fokus utama mereka adalah mempercepat deteksi kasus dan memutus rantai penularan.
Peneliti Temukan Asal Mula Wabah Terbaru
Tim ilmuwan dari Uganda dan Kongo melakukan penelitian terhadap virus yang sedang menyebar. Mereka menganalisis materi genetik virus untuk mencari sumber wabah.
Hasil penelitian menunjukkan virus berasal dari penularan baru dari satwa liar. Temuan ini berbeda dengan dugaan sebelumnya.
Sebelumnya, sebagian peneliti menduga wabah muncul dari rantai penularan lama yang tidak terdeteksi. Namun, analisis terbaru membantah kemungkinan tersebut.
Temuan ini memberi petunjuk penting bagi para peneliti. Dengan mengetahui sumber wabah, mereka dapat menyusun strategi pengendalian yang lebih efektif.
Karena itu, penelitian lanjutan akan terus dilakukan untuk membantu menghentikan penyebaran Ebola di kawasan Afrika Tengah.
“Baca Juga: 7 Penyebab Sering Mengantuk yang Tak Boleh Diabaikan“






