Greenhill Ciwidey – Luxon Nilai Netanyahu: Perdana Menteri Selandia Baru, Christopher Luxon, menilai pemimpin Israel, Benjamin Netanyahu, bertindak tidak rasional.
Ia menegaskan Netanyahu kehilangan kendali dalam menangani konflik di Gaza.
Pernyataan ini muncul saat Selandia Baru mempertimbangkan pengakuan resmi terhadap negara Palestina.
“Baca Juga: BNN Sita 63 Kg Ganja dari Atap Gedung PKM UIN Suska Riau“
Luxon Soroti Situasi Kemanusiaan di Gaza
Luxon berbicara kepada wartawan pada Rabu, 13 Agustus 2025.
Ia menyebut kondisi di Gaza mengerikan dan tidak dapat diterima.
Menurutnya, blokade bantuan kemanusiaan telah memicu kelaparan yang meluas.
Selain itu, terjadi pemindahan paksa penduduk dan ancaman aneksasi wilayah.
Luxon menilai semua tindakan itu menunjukkan sikap Netanyahu yang berlebihan.
Kecaman Terhadap Serangan di Kota Gaza
Luxon mengungkapkan kekhawatirannya terhadap serangan yang terjadi di Kota Gaza.
Ia menegaskan serangan tersebut melampaui batas kewajaran.
“Apa yang kita saksikan tadi malam benar-benar tidak dapat diterima,” tegas Luxon.
Ia menilai Netanyahu telah kehilangan akal sehat dalam mengatur respons terhadap konflik.
Pertimbangan Pengakuan Negara Palestina
Luxon menegaskan bahwa Selandia Baru sedang mempertimbangkan pengakuan Palestina sebagai negara berdaulat.
Selain itu, ia menyebut langkah tersebut sejalan dengan upaya sekutu dekatnya, Australia.
Pada Senin, 11 Agustus 2025, Australia telah mengumumkan rencana pengakuan itu.
Bahkan, pengumuman tersebut dilakukan bersama Kanada, Inggris, dan Prancis.
Selanjutnya, keputusan resmi akan dibahas dalam konferensi PBB pada September mendatang.
Dukungan Internasional untuk Palestina
Inggris, Kanada, Australia, dan beberapa negara Eropa menyerukan tindakan kemanusiaan segera.
Mereka meminta Israel mengizinkan bantuan tanpa batas ke Gaza.
Negara-negara itu menilai krisis kemanusiaan di Gaza telah mencapai tingkat yang tak terbayangkan.
Mereka mendesak semua pihak untuk menghentikan blokade dan membuka akses bantuan.
Israel dan Hamas Saling Tuduh
Pemerintah Israel menolak tuduhan bahwa mereka bertanggung jawab atas kelaparan di Gaza.
Sebaliknya, mereka menuduh militan Hamas mencuri kiriman bantuan.
Namun, Hamas membantah tuduhan itu dan menegaskan bahwa Israel harus bertanggung jawab atas krisis ini.
Akibatnya, pertukaran tuduhan tersebut semakin memperburuk ketegangan di wilayah tersebut.
Tekanan dari Dalam Negeri Selandia Baru
Desakan mengakui Palestina datang dari luar negeri dan dalam negeri.
Gerakan pro-Palestina di dalam negeri semakin kuat.
Menjelang sidang parlemen pada Rabu, sekelompok kecil demonstran berkumpul di luar gedung parlemen.
Mereka menyerukan agar anggota parlemen berani memutuskan dukungan untuk pengakuan Palestina.
Luxon Nilai Netanyahu & Langkah Selanjutnya
Luxon menyatakan bahwa pemerintahnya akan terus memantau perkembangan situasi di Gaza.
Selain itu, ia memastikan Selandia Baru akan mengambil langkah yang sejalan dengan nilai kemanusiaan.
Oleh karena itu, menurutnya, pengakuan Palestina dapat menjadi langkah penting menuju perdamaian.
“Baca Juga: Kim Keon Hee: Dari Ibu Negara ke Tersangka Korupsi“






