Greenhill Ciwidey – Bangkok berduka atas wafatnya Ibu Suri Thailand, Sirikit Kitiyakara, pada usia 93 tahun.
Biro Rumah Tangga Kerajaan Thailand mengumumkan kabar duka ini pada Sabtu, 25 Oktober 2025.
Sirikit meninggal dunia pada Jumat malam, 24 Oktober 2025, setelah mengalami infeksi aliran darah.
Ia telah dirawat di rumah sakit sejak 2019 karena beberapa penyakit.
Pihak kerajaan menyampaikan bahwa masa berkabung selama satu tahun ditetapkan bagi keluarga kerajaan.
Perdana Menteri Anutin Charnvirakul juga membatalkan kunjungannya ke KTT ASEAN di Malaysia sebagai bentuk penghormatan.
Kabinet Thailand dijadwalkan menggelar rapat khusus untuk membahas rencana pemakaman kenegaraan.
“Baca Juga: Sekolah Rakyat dan MBG Jadi Program Favorit Publik“
Sosok Elegan yang Menjadi Simbol Monarki Modern
Sirikit menampilkan keanggunan monarki Thailand sejak era pascaperang.
Selain itu, ia tampil menawan di depan publik dan menunjukkan gaya berpakaian elegan serta kepribadian yang kuat.
Lebih jauh lagi, bersama sang suami, Raja Bhumibol Adulyadej, ia memikat hati rakyat Thailand melalui dedikasi amal dan pembangunan sosial.
Dalam kunjungan ke Amerika Serikat tahun 1960, Sirikit mencuri perhatian dunia.
Majalah Time menyebutnya “langsing dan feminis sejati”, sementara harian Prancis L’Aurore menyebutnya “menawan”.
Ia kerap tampil dengan busana karya desainer Prancis Pierre Balmain yang memadukan sutra Thailand dan gaya Eropa klasik.
Awal Kehidupan dan Pertemuan dengan Raja Bhumibol
Sirikit lahir pada 1932, tahun ketika Thailand beralih menjadi monarki konstitusional.
Ia merupakan putri seorang duta besar Thailand untuk Prancis dan tumbuh dalam lingkungan penuh kehormatan.
Saat belajar musik dan bahasa di Paris, ia bertemu dengan Pangeran Bhumibol yang tengah menempuh pendidikan di Swiss.
Keduanya bertunangan pada 1949 dan menikah setahun kemudian saat Sirikit berusia 17 tahun.
Dalam wawancara dengan BBC, Sirikit pernah berkata dengan senyum, “Awalnya benci pada pandangan pertama, lalu menjadi cinta.”
Pernikahan mereka menjadi simbol keharmonisan kerajaan modern yang dekat dengan rakyatnya.
Peran Besar dalam Pembangunan dan Karya Amal
Selama lebih dari empat dekade, Sirikit mendampingi Raja Bhumibol mengunjungi desa-desa terpencil di Thailand.
Ia aktif dalam proyek pengentasan kemiskinan dan pelestarian budaya lokal.
Siaran televisi kerajaan sering menayangkan kunjungan amal mereka ke pedesaan setiap malam.
Sirikit juga dikenal sebagai pendukung utama pelestarian sutra Thailand.
Ia menghidupkan kembali tradisi menenun dengan mendirikan proyek kerajinan tangan bagi perempuan pedesaan.
Karya sosialnya menjadikan dirinya simbol kebajikan dan keibuan bagi masyarakat Thailand.
Pada 1956, Sirikit sempat menjabat Wali Raja, saat suaminya menjalani ritual menjadi biksu Buddha.
Kemudian, pada 1976, ulang tahunnya, 12 Agustus, ditetapkan sebagai Hari Ibu Nasional di Thailand.
Warisan dan Pengaruh Politik
Meskipun monarki Thailand bersifat nonpolitik, Sirikit beberapa kali memberikan pengaruh dalam situasi politik nasional.
Pada 1998, ia menyerukan rakyat untuk bersatu mendukung Perdana Menteri Chuan Leekpai,
yang saat itu menghadapi tekanan oposisi.
Ia juga terlibat dengan Aliansi Rakyat untuk Demokrasi (PAD), kelompok royalis yang menentang pemerintahan pro-Thaksin.
Pada 2008, ia menghadiri pemakaman pengunjuk rasa PAD dan menunjukkan dukungannya terhadap gerakan itu.
Banyak warga Thailand mengenal Sirikit sebagai figur penuh kasih dan penjaga tradisi nasional.
Karya sosialnya mendorong pemberdayaan perempuan dan menjaga pelestarian budaya Thailand.
Akhir Era Keanggunan dan Warisan Monarki
Suaminya, Raja Bhumibol Adulyadej, memerintah selama 70 tahun hingga wafat pada 2016.
Putra mereka, Raja Maha Vajiralongkorn (Rama X), menggantikan tahta pada 2019, menjadikan Sirikit sebagai Ibu Suri Thailand.
Wafatnya Sirikit menandai akhir dari era monarki yang penuh keanggunan dan dedikasi sosial.
Ia meninggalkan seorang putra, Raja Vajiralongkorn, serta tiga putri yang kini melanjutkan warisan keluarganya.
Rakyat Thailand akan mengenang Ibu Suri Sirikit sebagai simbol kebajikan, kecantikan, dan cinta terhadap bangsanya.
Bangsa itu kini berduka, namun juga bersyukur atas jejak panjang pengabdian dan kasih yang ia wariskan.
“Baca Juga: Diplomasi Prabowo Angkat Posisi Indonesia di Dunia“






