Greenhill Ciwidey – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa ia tidak perlu menaati hukum internasional.
Ia mengatakan bahwa moralitas dirinya sendiri menjadi satu-satunya batas bagi kebijakan luar negeri AS.
Pernyataan ini ia sampaikan setelah operasi militer AS di Venezuela pada awal Januari 2026. People.com
“Baca Juga: Rizki Juniansyah Pecahkan Rekor Dunia, Naik Pangkat Kapten TNI AL“
Operasi Militer AS di Venezuela
Pada 3 Januari 2026, militer AS melancarkan serangan di Venezuela.
Serangan ini menargetkan ibu kota, Caracas, dan pangkalan militer.
Pasukan AS akhirnya menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya.
Trump kemudian mengumumkan bahwa AS akan “menguasai” Venezuela untuk waktu yang belum ditentukan. ABC News+1
AS menyatakan bahwa tindakan mereka berkaitan dengan dakwaan narkotika terhadap Maduro.
Kritikus menilai operasi tersebut melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa yang melarang serangan terhadap kedaulatan negara lain. Wikipedia
Trump Tolak Batasan Hukum Internasional
Trump mengatakan pada media bahwa ia tidak perlu mengikuti hukum internasional.
Ia menyatakan hukum internasional bisa diabaikan tergantung pada definisinya.
Komentar ini memicu kekhawatiran global mengenai masa depan aturan global. Al Jazeera
Kritikus hukum dan analis internasional memperingatkan bahwa tindakan tersebut bisa menghadirkan preseden berbahaya.
Para ahli hukum menilai intervensi militer seperti penculikan kepala negara tanpa otorisasi PBB dapat menjadi pelanggaran serius. Wikipedia
Ambisi Penguasaan Greenland
Selain Venezuela, Trump juga menyuarakan rencana untuk mengambil alih Greenland dari Denmark.
Rencana ini mendapat penolakan kuat dari Denmark dan sekutu NATO lainnya. TIME+1
Para politisi Denmark menyatakan bahwa AS tidak memiliki hak untuk mengambil wilayah tersebut.
Mereka bahkan mengatakan pendekatan seperti itu akan merusak aliansi militer NATO. AP News
Reaksi dari Eropa terhadap ancaman terhadap Greenland sangat keras.
Pemerintah Jerman dan lainnya menyatakan keprihatinan atas ancaman terhadap wilayah Denmark. Al Jazeera
Respons Global dan Ketidaksetujuan
Kebijakan agresif Trump menarik reaksi dari pemimpin dunia lain.
Presiden Emmanuel Macron dari Prancis mengkritik AS karena meremehkan hukum internasional dan menekan lembaga global. The Times of India
Selain itu, banyak negara di Perserikatan Bangsa-Bangsa menilai serangan ke Venezuela sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan stabilitas internasional. The Guardian
Di AS sendiri, ada tekanan politik dari parlemen untuk membatasi kekuasaan presiden dalam operasi militer tanpa persetujuan Kongres.
Senat AS pun memajukan langkah legislatif yang bertujuan mengekang kekuasaan tersebut. Reuters
Trump dan Prioritas Kepentingan AS
Trump menegaskan bahwa kebijakan luar negeri AS akan memprioritaskan kepentingan negara.
Ia sering menyebut perlunya menggunakan kekuatan secara tegas untuk tujuan strategis.
Pendukungnya mengatakan pendekatan ini menunjukkan AS sebagai negara adidaya yang kuat di dunia.
Namun, para penentang menyebut pendekatan ini berpotensi menyebabkan konflik lebih luas.
Kritikus menilai pendekatan tersebut berisiko menciptakan ketidakpastian geopolitik dan melemahkan aturan hukum global.
Dampak pada Tatanan Global
Analis internasional mengingatkan bahwa pengabaian hukum internasional bisa membawa konsekuensi serius.
Hukum internasional berperan mengatur hubungan antarnegara dan mencegah konflik berskala besar.
Tanpa batasan hukum yang dihormati bersama, ketegangan antarnegara bisa meningkat.
“Baca Juga: Don Muzakir Raih Satyalencana Wirakarya dari Presiden Prabowo“






