Greenhill Ciwidey – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan wabah Ebola terus memburuk di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) dan Uganda.
Data terbaru hingga Rabu, 22 Juli 2026, menunjukkan wabah ini telah merenggut lebih dari 1.000 korban jiwa di kedua negara.
WHO mencatat 2.473 kasus Ebola di RD Kongo. Dari jumlah tersebut, sebanyak 999 orang meninggal dunia.
Sementara itu, Uganda melaporkan 20 kasus dengan dua korban meninggal.
Laporan tersebut mengacu pada data resmi yang disampaikan pemerintah kedua negara.
“Baca Juga: Terowongan Runtuh di India, 12 Pekerja Tewas“
Wabah Berawal dari Provinsi Ituri
Pemerintah RD Kongo mengumumkan wabah Ebola ke-17 pada 15 Mei 2026.
Kasus pertama muncul setelah sejumlah kematian terjadi di Provinsi Ituri.
Wilayah tersebut berada di bagian timur laut RD Kongo dan memiliki banyak kawasan pertambangan.
Selain itu, beberapa kelompok bersenjata masih beroperasi di daerah tersebut.
Kondisi keamanan yang tidak stabil membuat penanganan wabah menjadi lebih sulit.
Uganda Catat Penurunan Kasus Baru
Sebagian besar pasien Ebola di Uganda berasal dari warga RD Kongo yang melintasi perbatasan.
Meski demikian, pemerintah Uganda melaporkan perkembangan yang cukup positif.
Negara itu telah melewati tiga minggu tanpa menemukan kasus baru.
Hasil tersebut memberikan harapan bahwa penyebaran virus di Uganda mulai terkendali.
WHO Sebut Penyebaran Ebola Semakin Cepat
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengingatkan bahwa wabah kali ini berkembang lebih cepat dibandingkan wabah Ebola sebelumnya.
Menurut WHO, penyebaran virus terus meningkat selama satu bulan terakhir.
Karena itu, organisasi tersebut terus memperkuat upaya penanganan di lapangan.
Namun, WHO mengakui tantangan yang dihadapi masih sangat besar.
Penanganan Wabah Masih Menghadapi Banyak Kendala
Manajer insiden WHO untuk virus Bundibugyo di RD Kongo, Thierno Balde, menyampaikan bahwa tim kesehatan masih berusaha mengejar laju penyebaran virus.
Ia menilai wabah saat ini belum berada dalam kondisi yang terkendali.
Selain itu, tim medis juga menghadapi berbagai hambatan saat menjangkau wilayah yang terdampak.
Kondisi keamanan dan akses menuju lokasi menjadi tantangan utama selama proses penanganan.
Belum Ada Vaksin yang Disetujui
Hingga saat ini, belum ada vaksin maupun obat yang mendapat persetujuan untuk mengatasi strain Bundibugyo.
Strain tersebut menjadi penyebab utama wabah Ebola yang terjadi di RD Kongo.
Meski begitu, WHO melihat perkembangan yang cukup menjanjikan.
Organisasi tersebut sedang menjalankan uji coba terhadap dua kandidat obat, vaksin, dan terapi pencegahan setelah paparan virus.
WHO berharap penelitian tersebut dapat membantu mengendalikan wabah dalam waktu mendatang.
Sementara itu, tim kesehatan terus memperkuat pelacakan kasus, perawatan pasien, dan edukasi kepada masyarakat agar penyebaran Ebola dapat ditekan secepat mungkin.
“Baca Juga: 10 Tanda Tubuh Sehat Menurut Dokter, Salah Satunya Kentut“






