Greenhill Ciwidey – Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Pulau Larak, Iran selatan, pada Minggu, 30 Agustus 2026. Serangan tersebut menewaskan dan melukai sejumlah anggota IRGC serta warga sipil.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kemudian berjanji membalas serangan tersebut. Mereka juga menyatakan akan menghukum pihak yang bertanggung jawab atas serangan itu.
“Baca Juga: Banjir Nepal-Tibet Tewaskan 750 Orang, 3.044 Hilang“
IRGC Tuduh AS Melancarkan Agresi
Departemen humas IRGC menuduh militer Amerika Serikat melakukan serangan agresif terhadap Pulau Larak. Pulau tersebut berada di Provinsi Hormozgan, wilayah selatan Iran.
IRGC menyebut serangan itu menargetkan wilayah strategis dekat Selat Hormuz. Mereka juga menilai tindakan Amerika Serikat membawa konsekuensi serius.
Juru bicara IRGC Sardar Mohebi menyebut serangan tersebut sebagai kesalahan strategis fatal. Menurutnya, tindakan tersebut dapat memicu konsekuensi ekonomi dan militer.
Sebelumnya, kantor berita Fars melaporkan suara ledakan dari sekitar Pulau Larak. Pada saat itu, pihak setempat belum mengetahui lokasi dan penyebab ledakan secara pasti.
AS Klaim Menghancurkan Peluncur Rudal
Laporan media Amerika Serikat kemudian menyebut pasukan AS menyerang Pulau Larak. Media tersebut melaporkan aktivitas militer Iran di sekitar pulau.
Pasukan Iran diduga menyiapkan roket dan ranjau untuk menghadapi lalu lintas kapal. Aktivitas tersebut berlangsung di kawasan strategis dekat Selat Hormuz.
Fox News melaporkan bahwa militer AS menghancurkan dua peluncur rudal Iran. Serangan tersebut juga menewaskan sejumlah tentara Iran.
Pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan telah menyelesaikan operasi pembersihan ranjau. Operasi tersebut menyasar jalur pelayaran internasional di kawasan Selat Hormuz.
Trump Beri Peringatan soal Ranjau Laut
Presiden Donald Trump sebelumnya memperingatkan Iran mengenai aktivitas penebaran ranjau. Ia menyampaikan peringatan tersebut pada Selasa, 25 Agustus 2026.
Trump mengatakan Amerika Serikat akan menghancurkan kapal atau perahu yang menebar ranjau baru. Ia juga menegaskan bahwa militer AS terus mengawasi kawasan tersebut.
Menurut Trump, pasukan AS akan menjaga kelancaran perdagangan melalui jalur laut tersebut. Selat Hormuz memiliki peran penting bagi aktivitas perdagangan dan energi dunia.
Karena itu, aktivitas militer di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan antara Washington dan Teheran.
AS Serang Pulau Larak: Iran Bantah Klaim Ekonomi Amerika Serikat
Selain ketegangan militer, Iran juga merespons pernyataan ekonomi dari pemerintah Amerika Serikat. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menanggapi pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
Bessent sebelumnya mengklaim langkah ekonomi Washington dapat melumpuhkan perekonomian Iran. Ia juga menyebut Amerika Serikat telah memasok 130 juta barel minyak dalam 14 hari.
Ghalibaf menolak klaim tersebut melalui unggahan di platform X pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Ia menyebut pernyataan Bessent sebagai kebohongan besar.
Perkembangan ini menunjukkan ketegangan Iran dan Amerika Serikat terus meningkat. Selain konflik militer, kedua negara juga saling berhadapan melalui tekanan ekonomi.
Dengan serangan terbaru di Pulau Larak, situasi kawasan Selat Hormuz kembali menjadi perhatian. Kedua pihak kini menghadapi tekanan untuk mencegah konflik berkembang lebih luas.
“Baca Juga: Pundak Kaku Meski Dipijat? Kenali Subconscious Guarding“






