Greenhill Ciwidey – China menggelar latihan militer intensif di sekitar Taiwan.
Latihan ini mensimulasikan serangan dan blokade wilayah strategis pulau tersebut.
Beijing menyebut latihan ini sebagai peringatan keras.
China menargetkan apa yang mereka sebut sebagai “pasukan separatis” di Taiwan.
Latihan ini melibatkan angkatan darat, laut, udara, dan pasukan roket.
Militer China juga melakukan latihan tembak langsung.
“Baca Juga: Polda Metro Perketat Keamanan Wisata Selama Libur Nataru“
Latihan Bertajuk “Misi Keadilan 2025”
Militer China memberi kode nama latihan ini “Misi Keadilan 2025”.
Latihan berlangsung beberapa hari dengan skala besar.
China menggelar latihan ini setelah langkah Amerika Serikat.
Amerika Serikat mengumumkan penjualan paket senjata besar ke Taiwan.
Nilai paket senjata tersebut mencapai USD 11 miliar.
Keputusan ini langsung memicu kemarahan Beijing.
China kemudian menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan pertahanan AS.
Beijing menilai langkah Washington memperburuk stabilitas kawasan.
Taiwan Tingkatkan Kesiapsiagaan Militer
Pemerintah Taiwan langsung merespons latihan tersebut.
Kantor kepresidenan Taiwan mengkritik tindakan China.
Taiwan menilai latihan itu melanggar norma internasional.
Pemerintah juga menilai Beijing meningkatkan tekanan militer.
Kementerian Pertahanan Taiwan mendeteksi aktivitas militer China.
Mereka mencatat keberadaan pesawat dan kapal perang China.
Sebagai respons, Taiwan mengerahkan pasukan dan sistem rudal.
Militer Taiwan menetapkan status siaga tinggi.
Pernyataan Keras dari Militer China
Komando Teater Timur militer China menyampaikan pesan tegas.
Mereka menyebut latihan ini sebagai “perisai keadilan”.
Dalam unggahan di Weibo, komando itu mengancam pihak separatis.
China menyatakan siap menghancurkan rencana kemerdekaan Taiwan.
Militer China menjadwalkan latihan besar lanjutan.
Latihan utama berlangsung dari pagi hingga sore hari.
Ketegangan Politik antara Beijing dan Taipei
China terus menyerukan penyatuan kembali secara damai.
Namun, Beijing tetap membuka opsi non-damai.
China menuduh Presiden Taiwan Lai Ching-te mendorong kemerdekaan.
Lai menolak tudingan tersebut secara terbuka.
Lai menegaskan Taiwan sudah berdaulat.
Ia menyatakan Taiwan tidak perlu mendeklarasikan kemerdekaan.
Dalam wawancara, Lai menekankan pentingnya kekuatan pertahanan.
Ia juga menegaskan komitmen mempertahankan status quo.
Opini Publik Taiwan Tetap Pilih Status Quo
Jajak pendapat menunjukkan sikap publik Taiwan konsisten.
Mayoritas warga mendukung status quo.
Mereka tidak ingin bersatu dengan China.
Mereka juga tidak mendukung deklarasi kemerdekaan formal.
Sikap ini menjadi tantangan bagi Beijing dan Taipei.
Kedua pihak terus menjaga posisi masing-masing.
Pola Latihan China Sejak 2022
China meningkatkan latihan militer sejak 2022.
Latihan sering muncul setelah peristiwa politik sensitif.
Salah satu pemicu besar adalah kunjungan Nancy Pelosi ke Taiwan.
Pelantikan Lai pada 2024 juga memicu respons militer.
Pada April lalu, China menggelar latihan tembak langsung.
Latihan tersebut mensimulasikan serangan pelabuhan dan fasilitas energi.
Kepemimpinan Baru dan Dampak Regional
Latihan kali ini menjadi yang pertama di bawah pimpinan baru.
Yang Zhibin memimpin Komando Teater Timur sejak Oktober.
Taiwan juga rutin menggelar latihan militernya sendiri.
Latihan Han Kuang tahun ini menjadi yang terbesar.
Latihan China juga berdampak pada hubungan dengan Jepang.
Ketegangan meningkat setelah pernyataan pejabat Jepang.
China menilai pernyataan Jepang sebagai provokasi.
Beijing lalu mengeluarkan peringatan perjalanan ke Jepang.
Kesimpulan: China Latihan Militer di Taiwan
Latihan militer China meningkatkan ketegangan Selat Taiwan.
Taiwan dan sekutunya terus meningkatkan kewaspadaan.
Situasi ini menunjukkan risiko konflik masih tinggi.
Stabilitas kawasan bergantung pada keseimbangan kekuatan dan diplomasi.






