Greenhill Ciwidey – Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung kembali mendorong Korea Utara membuka dialog. Ia ingin kedua negara membahas langkah resmi untuk mengakhiri Perang Korea.
Perang Korea berlangsung pada 1950 hingga 1953. Kedua pihak mengakhiri konflik melalui gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
Karena itu, secara teknis kedua Korea masih berada dalam kondisi perang. Lee kini berupaya mengubah situasi tersebut melalui pendekatan dialog dan kerja sama.
“Baca Juga: Houthi Serang Marib, Warga Sipil Kembali Jadi Korban“
Lee Ajak Korea Utara Duduk Bersama
Lee menyampaikan ajakan tersebut dalam upacara peringatan Hari Pembebasan ke-81. Korea Selatan memperingati hari tersebut untuk mengenang pembebasan Korea dari penjajahan Jepang pada 1945.
Dalam pidatonya pada Sabtu (15/8/2026), Lee meminta kedua Korea menghentikan sikap saling mengancam.
Ia juga mengajak kedua pihak membahas cara mengakhiri konflik yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.
Menurut Lee, Korea Selatan dan Korea Utara dapat membangun hubungan yang lebih damai. Kedua negara juga dapat membahas peluang pertumbuhan bersama.
Selain itu, Lee ingin dialog tersebut membahas perkembangan program nuklir Korea Utara. Ia berharap kedua pihak menemukan langkah efektif untuk menghambat perkembangan kemampuan nuklir Pyongyang.
Korea Selatan Ingin Pulihkan Hubungan
Lee mulai menjabat sebagai presiden Korea Selatan pada tahun lalu. Sejak itu, pemerintahannya berupaya memperbaiki hubungan dengan Korea Utara.
Pemerintah Lee juga berusaha memperbaiki hubungan dengan China. Hubungan Seoul dengan Pyongyang dan Beijing sebelumnya memburuk selama pemerintahan Yoon Suk Yeol.
Karena itu, Lee menggunakan pendekatan yang lebih terbuka terhadap dialog. Namun, Korea Utara belum memberikan tanggapan terhadap ajakan terbaru tersebut.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa upaya dialog masih menghadapi tantangan besar. Pyongyang sebelumnya mengambil sikap keras terhadap Seoul.
Lee Pernah Minta Maaf soal Insiden Drone
Upaya Lee memperbaiki hubungan juga terlihat pada April lalu. Saat itu, Lee menyampaikan permintaan maaf kepada Korea Utara terkait penerbangan drone ke wilayahnya.
Jaksa Korea Selatan kemudian mendakwa tiga orang terkait insiden tersebut. Mereka terdiri dari seorang pegawai Badan Intelijen Nasional, seorang perwira militer, dan seorang mahasiswa pascasarjana.
Ketiganya diduga menerbangkan drone ke wilayah Korea Utara. Aktivitas tersebut berlangsung antara September 2025 hingga Januari 2026.
Sebelumnya, Seoul membantah keterlibatan resmi dalam penerbangan drone tersebut. Pemerintah Korea Selatan menyebut tindakan itu sebagai aktivitas warga sipil.
Kim Jong-un Tetap Bersikap Keras
Sementara itu, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengambil sikap berbeda. Pada Maret lalu, Kim menyebut Korea Selatan sebagai negara yang paling memusuhi Pyongyang.
Kim juga menyatakan penolakannya terhadap Seoul. Ia bahkan memperingatkan Korea Selatan mengenai konsekuensi dari tindakan yang Pyongyang anggap sebagai provokasi.
Pernyataan tersebut menunjukkan perbedaan sikap antara kedua negara. Lee terus menawarkan dialog, sedangkan Kim masih mempertahankan pendekatan keras.
Karena itu, peluang perdamaian tetap bergantung pada respons Korea Utara. Jika Pyongyang menerima ajakan dialog, kedua pihak dapat mulai membahas hubungan dan isu keamanan.
Namun, jika Korea Utara kembali menolak pendekatan Seoul, ketegangan di Semenanjung Korea berpotensi berlanjut.
“Baca Juga: Nyeri Tumit Saat Bangun Tidur? Kenali Plantar Fasciitis“





