Greenhill Ciwidey – Pemerintah Thailand membebaskan 18 tentara Kamboja setelah gencatan senjata disepakati pada Sabtu, 27 Desember 2025.
Pembebasan ini menandai langkah awal meredakan konflik perbatasan yang mematikan.
Selain itu, langkah ini menunjukkan komitmen Thailand menjaga kesepakatan tetap berjalan.
“Baca Juga: Polda Metro Perketat Keamanan Wisata Selama Libur Nataru“
Penundaan Sehari dan Tekanan Diplomatik
Awalnya, Thailand menunda penyerahan selama satu hari.
Pemerintah menyuarakan kekhawatiran atas dugaan pelanggaran gencatan senjata.
Namun kemudian, Thailand melanjutkan proses setelah tekanan diplomatik berkelanjutan dari China.
China mendorong kedua pihak mempertahankan kesepakatan dan mencegah eskalasi lanjutan.
Ketegangan Memicu Pengungsian Besar
Sebelumnya, ketegangan perbatasan meledak pada awal bulan dan berlangsung berminggu-minggu.
Akibatnya, hampir satu juta warga meninggalkan rumah mereka.
Selain itu, bentrokan mengganggu aktivitas ekonomi dan layanan publik di wilayah perbatasan.
Isi Kesepakatan Gencatan Senjata
Kesepakatan Sabtu menetapkan pembekuan garis depan pada posisi saat ini.
Kedua negara juga melarang pengiriman bala bantuan tambahan.
Selanjutnya, kesepakatan mengizinkan warga sipil segera kembali ke daerah perbatasan.
Dengan demikian, stabilitas lokal diharapkan pulih secara bertahap.
Proses Penyerahan di Perbatasan
Delapan belas tentara Kamboja mengenakan pakaian sipil saat melintasi pos pemeriksaan.
Para simpatisan menyambut mereka dengan antusias.
Petugas Thailand kemudian menyerahkan para tentara kepada otoritas Kamboja.
Proses ini berlangsung tertib dan tanpa insiden.
Isu Nasionalisme dan Tuntutan Phnom Penh
Penahanan sejak Juli memicu sentimen nasionalis di Kamboja.
Oleh karena itu, pemerintah Kamboja menjadikan pembebasan sebagai tuntutan utama.
Tuntutan ini muncul dalam perundingan gencatan senjata dengan Thailand.
Pernyataan Resmi Kedua Negara
Pada Rabu, 31 Desember 2025, Kementerian Luar Negeri Thailand menyampaikan pesan niat baik.
Pemerintah Thailand berharap Kamboja membalas melalui tindakan nyata.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Kamboja mengonfirmasi kembalinya pasukan.
Mereka menyatakan harapan membangun kepercayaan dan keyakinan bersama.
Tuduhan Pelanggaran dan Tenggat Waktu
Kesepakatan menetapkan penyerahan dalam 72 jam, paling lambat Selasa siang.
Namun, Bangkok menuding Phnom Penh melanggar gencatan senjata.
Thailand menyebut adanya lebih dari 250 pesawat tanpa awak memasuki wilayahnya pada Minggu.
Meski begitu, gencatan senjata terbaru masih bertahan hingga kini.
Akar Sengketa dan Riwayat Bentrokan
Perselisihan perbatasan berlangsung lebih dari satu abad.
Ketegangan meningkat setelah perempuan Kamboja menyanyikan lagu patriotik di kuil sengketa.
Pada Mei, satu tentara Kamboja tewas dalam bentrokan.
Kemudian, pertempuran lima hari pada Juli menewaskan puluhan tentara dan warga sipil.
Ribuan warga juga mengungsi akibat konflik tersebut.
Thailand Bebaskan 18 Tentara Kamboja: Upaya Mediasi dan Harapan Ke Depan
Kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata pada Juli dan menandatanganinya Oktober.
Mediasi melibatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Namun, ketegangan baru kembali meletus awal bulan ini.
Kini, pembebasan tentara membuka peluang pemulihan kepercayaan secara bertahap.
“Baca Juga: Myanmar Gelar Pemilu Pertama Pasca Kudeta 2021“






